Imunoterapi Atezolizumab Pengobatan Untuk Kanker Hati

Imunoterapi Atezolizumab Pengobatan Untuk Kanker Hati

Kanker Hati merupakan penyebab kematian tertinggi nomor lima bagi pria dan kesembilan bagi wanita. Beberapa waktu lalu aku mengikuti sebuah Webinar Kesehatan yang diselenggarakan oleh Roche. Roche terus berkomitmen melakukan inovasi untuk memberikan harapan hidup bagi banyak pasien. Tentang kanker hati aku banyak mengetahuinya dari sebuah drama korea "Hospital Playlist", Dokter Ik-Jun merupakan Dokter Spesialis yang banyak mempunyai pasien Kanker Hati dan benar sih pasiennya rata-rata adalah pria. Hal ini bisa jadi disebabkan gaya hidup pria yang lebih sembrono dari wanita  kalau kata Dokter Irsan Hasan mungkinkah ini kutukan buat pria? hehe

Imunoterapi Atezolizumab

Dalam drakor ini tampaknya pengobatan Kanker Hati di Korea Selatan sudah begitu maju, apalagi di sana terkait donor organ regulasinya sudah jelas jadi orang yang menderita kanker hati punya harapan sembuh melalui transplantasi hati. Lantas bagaimana di negara kita? Kanker hati adalah satu dari lima jenis kanker yang paling banyak menyebabkan kematian. Berdasarkan riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di tahun 2020, kanker hati bertanggung jawab atas lebih dari 800.000 kematian akibat kanker di seluruh dunia.

Pada kesempatan ini juga hadir Dr. Ait-Allah Mejri selaku Presiden Direktur Roche Indonesia menyampaikan bahwa Roche selama 50 tahun berada di Indonesia terus melakukan inovasi untuk mengembangkan obat yang menjadi harapan bagi pasien. Dr. Mejri juga berharap pemerintah bisa memfasilitasi pengobatan bagi pasien kanker hati melalui Jaminan Kesehatan Nasional.

Kanker Hati - Sumber Alodokter

Fungsi organ hati diantaranya adalah membersihkan darah dari racun dan zat berbahaya, seperti alkohol, membantu proses pencernaan makanan, dan mengontrol pembekuan darah. Makanya beberapa kasus kanker hati yang aku ketahui memang karena rajin konsumsi alkohol akhirnya fungsi hati menjadi drop deh.

Penting banget memang melakukan screening sejak dini salah satunya adalah dengan melakukan vaksin hepatitis dan pastinya hindari minum alkohol ya.

BPOM Beri Izin Atezolizumab Sebagai Obat Imunoterapi Untuk Pasien Kanker Hati

Kanker Hati adalah salah satu jenis kanker penyebab kematian tinggi di Indonesia, pada tahun 2020 ada kasus kanker hati mencapai 21.392 kasus, karena itu pemerintah berharap Kanker Hati bisa dideteksi secara dini dan bisa diberikan Imunoterapi untuk meningkatkan hidup pasien. Kanker Hati memang jarang menunjukkan gejala khas karena itu  DR. dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH, FINASIM selaku dokter spesialis gastroenterohepatolog berharap pada pemerintah untuk bisa memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk melakukan screening awal. Banyak kasus kanker hati baru terdeteksi ketika stadium lanjut dimana sudah tak bisa dilakukan operasi dan kecil kemungkinan bagi pasien dapat bertahan hidup lebih lama. 

Senada dengan Dokter Irsan pada Webinar kali hadir dr. Else Mutiara Sihotang, Sp.PK, Kasubdit RS Pendidikan Kementerian Kesehatan. yang mewakili Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan menjadikan Kanker sebagai program prioritas. Pengetahuan masyarakat terkait Kanker Hati juga masih minim hal ini bisa diketahui dari kisah Ibu Evy Rachmad berusia 68 tahun merasa bingung harus bertanya kepada siapa terkait Kanker hati yang dideritanya. Cukup beruntung karena putra beliau bisa menemukan solusi pengobatan di Goangzhu - China. Butuh sinergi berbagai pihak untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat dan kegiatan yang diselenggarakan Roche merupakan salah satu cara untuk terus mengedukasi masyarakat tentang penyakit kanker.

Pembicara Webinar Kanker Hati

Imunoterapi Harapan Baru Bagi Pasien Kanker

Webinar kali ini menjelaskan bahwa BPOM sudah memberi izin Obat imunoterapi atezolizumab dengan kombinasi bevacizumab untuk pengobatan pasien kanker hati. Imunoterapi ini hanya dilakukan untuk kanker hati tipe karsinoma sel hati stadium lanjut atau yang tidak dapat dioperasi dan belum pernah mendapatkan pengobatan sebelumnya. Dengan adanya persetujuan BPOM untuk imunoterapi diharapkan bisa menjadi harapan baru bagi pasien kanker hati.

Karsinoma sel hati (hepatoselular karsinoma/HCC) merupakan salah satu tipe kanker hati utama yang paling umum dengan prognosis (perjalanan penyakit) yang sangat buruk. HCC ini memang terdiagnosanya sering pada stadium lanjut bahkan 6 bulan sejak ketahuan 23.4% pasien tak mampu bertahan hidup.

“Dengan disetujuinya obat imunoterapi atezolizumab dengan kombinasi bevacizumab sebagai imunoterapi pertama untuk pengobatan pasien kanker hati tipe karsinoma sel hati stadium lanjut, diharapkan adanya perbaikan kesintasan pasien kanker hati yang lebih tinggi. Kami sangat berharap agar pengobatan baru ini dapat menjangkau pasien yang membutuhkan sehingga kita dapat menekan angka kematian akibat kanker hati” (DR. dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH, FINASIM) 

Obat imunoterapi kanker bekerja dengan cara membantu sistem imun di tubuh manusia untuk secara spesifik membunuh sel kanker. Studi klinis menunjukkan penggunaan Atezolizumab yang dikombinasikan dengan Bevacizumab meningkatkan angka kesintasan hingga 19,2 bulan atau 34% lebih tinggi dibandingkan dengan pengobatan standar dan mencegah perburukan penyakit hingga 6,9 bulan atau perbaikan hasil pengobatan hingga 35% dibandingkan dengan pengobatan standar yang ada saat ini. Selain memperoleh kesempatan harapan hidup yang baik, pasien dapat juga menjalani hidup yang lebih berkualitas dengan profil keamanan obat yang dapat ditoleransi dengan baik.

Dr. dr. Agus Susanto Kosasih, Sp.PK(K), MARS selaku dokter spesialis patologi klinik menyebutkan bahwa perkembangan kemajuan teknologi kesehatan saat ini bisa membantu diagnosa lebih awal dan akurat. Kanker hati bisa dideteksi lewat tes PIVKA II. PIVKA II lebih sensitif dalam mendiagnosis kanker hati, terutama bila dikombinasikan dengan Tes darah untuk alfa-fetoprotein (AFP). PIVKA II adalah biomarker yang dapat digunakan dalam surveilans rutin pada populasi berisiko tinggi yaitu pada pasien dengan kelainan hati. Dalam interpretasi hasil PIVKA II, pemeriksaan lainnya dalam tatanan klinis tetap perlu dilakukan seperti CT-Scan dan MRI atau jika dibutuhkan adalah biopsi untuk memberikan diagnosis yang tepat bagi pasien. Pemeriksaan PIVKA II dilakukan dengan menggunakan sampel darah dan dikerjakan metode ECLIA di laboratorium Patologi Klinik.

Well, semoga saja dengan adanya webinar ini para pemangku jabatan bisa saling bersinergi ya supaya pengobatan kanker khususnya kanker hati bisa dicover Jaminan Kesehatan Nasional khususnya atas penemuan-penemuan baru untuk memberi peluang hidup yang lebih besar bagi pasien.




0 Komentar

Komen ya biar aku tahu kamu mampir