Habibie, Jerman dan Aku - Ulihape.com

Habibie, Jerman dan Aku

1992, saat di penghujung masa Sekolah Menengah Pertama entah kenapa aku begitu terpana dengan ucapan Bapak BJ Habibie, entah apa jabatannya saat itu " bahwa Jerman menyediakan banyak beasiswa untuk pelajar Indonesia dengan GRATIS". Mungkin itulah awal aku mengenal Jerman.

Sejak saat itu aku mempunyai keinginan untuk kuliah ke Jerman (ternyata dari dulu ye suka yang gratis) , keinginan ke Jerman tak diiringi dengan semangat untuk kursus bahasa Jerman, karena pada masa itu waktu ku sudah habis untuk kegiatan sekolah dan aku punya keyakinan bahwa nanti juga bisa kursus dulu sebelum kesana. Kelas 2 SMA aku membaca testimoni seseorang mengenai kuliah di Jerman itu semuanya GRATIS, semua di fasilitasi akan tetapi pajak hidup bagi yang single cukup besar, dan inilah yang membuat lepas sebagian dari keinginanku. Sangat sadar manalah ada uang mamak papa untuk semua ini. 


Lalu aku kuliah, kemudian tetap bermimpi untuk bisa ke Jerman meski hanya berlibur. Tak heran ketika demam piala dunia tiba maka jagoan ku dari sebelum pertandingan dimulai adalah Jerman, apapun situasinya hanya tim kesebelasan Jerman yang aku suka. Harapan sempat muncul kembali ketika Pak Habibie menjadi seorang Presiden , siapa tahu kan beliau bisa kasih beasiswa yang semuanya gratis, namun pupus kembali ketika Beliau tak menjadi Presiden lagi.




Kemudian dunia perfilman Indonesia mencoba untuk mengangkat kisah cinta sejati Pak Habibie dan Ibu Ainun (alm) , maka tak seperti kisah Cinta dan Rangga dimana aku tak tertarik menonton nya, apapun yang berkaitan dengan Habibie dan Jerman aku tak akan berpikir, langsung suka dan beberapa hari lalu aku berkesempatan untuk Nobar film lain dari kisah Pak Habibie yaitu Rudy Habibie. Di film ini pula aku seolah semakin mengenal masa kecil beliau, dulu sempat mencari tahu tentang Ibunya, pastilah Ibunya orang yang luar biasa sehingga mampu menjadikan Habibie seperti yang kita kenal. Dan ternyata benar, Habibie mempunyai mami yang sangat luar biasa, seorang Ibu yang support habis dengan anak-anaknya, dan Papi nya tak kalah luar biasa, didikan agama yang cukup kental menjadikan Habibie tumbuh menjadi anak sholeh. Di film ini juga aku seperti mencium aroma udara Jerman, rasanya aku berada disana. 

Sebuah kejutan di akhir acara, Pak Habibie menemui para penonton, beliau bersedia menjawab apa yang kami ingin ketahui. Sebagai seorang wanita tentu aku penasaran dengan pujaan hatinya saat itu "Illona", sejak berpisah di hari Senin di stasiun kereta api, maka itu adalah hari terakhir dia melihat Illona, karena setelahnya kembali ke Indonesia dan bertemu Ainun dan tak ada kesempurnaan wanita lain yang mampu mengalihkan cintanya dari sosok Ainun.


Pak Habibie menyudahi sesi tanya jawab, didampingi paspampers beliau digiring menuju parkiran. Perempuan-perempuan disana masih ingin melihatnya, mereka mengiringi langkah pak Habibie bergerombol. Aku berlari menjauh memasang strategi di depan bagaimana supaya aku bisa mengajaknya selfie, dan disampingnya aku berteriak "Pak...pliiiss aku mau selfie" , belia menolehku dan tersenyum sembari menyuruh paspampers menyingkir, dan aku begitu bahagianya "lihat kesini pak" sambil aku menunjuk kamera HP ku. Setelahnya kuucapkan terima kasih, ku jabat tangannya dan kucium punggung tangannya. Ahh rasanya separuh Jerman sudah aku rasankan, separuh Jerman sudah aku sentuh.


Andai mimpi masih bisa ku lanjutkan maka malam itu semangat untuk belajar ke Jerman kembali menganga...dan doa dari ku semoga Allah memberikan kesehatan padamu Pak Habibie...



When Sharing Is Caring, Aku Senang Bercerita Untuk Membuatmu Tak Merasa Sendirian Nikmati Cerita Tentang Hidup, Info Produk, Kesehatan Dan Cinta.