Pandemi Jadi Alasan Terbaik Untuk Tak Bersosialisasi

Pandemi Jadi Alasan Terbaik Untuk Tak Bersosialisasi

Ada nggak yang sama denganku? Justru pandemi adalah penyelamat dari aku yang malas bersosialisasi dengan tetanggaku? Bukan tanpa sebab ya aku malas melakukan silaturahmi, pasalnya aku merasa 'dikucilkan' maklum ya sis karena aku memang nggak join pengajian komplek. Bukan karena aku nggak tertarik, tapi karena aku memang punya kesibukan di jam kajian. Meskipun kesibukan itu cuman sekedar memasak atau memandikan anak-anak. Tapi menurutku mengurus keluarga adalah hal utama, bukan berarti pula aku mendahulukan urusan dunia tapi bagiku ini adalah sebuah pilihan dan tak seharusnya menjadi alasan bagi mereka untuk memandang aku berbeda.

Pandemi dan Silaturahmi


Perasaan itu bukan hanya hadir padaku melainkan juga dirasakan anak-anakku lewat anak mereka. Aku ingat betul ketika salah satu Ibu menuduh anakku mengucapkan kata tak pantas pada anaknya, lantas ketika dikonfirmasi ternyata yang mengatakannya adalah anak lain dari teman sekajiannya, apakah si Ibu menegur anak teman kajiannya? Tidak! sejak saat itu aku semakin yakin untuk menjaga jarak.

Pandemi hadir dan aku seperti ditolong untuk senantiasa menjaga jarak hehe, dan kini semakin punya alasan untuk tak bersilaturahmi, yah kalau sekedar tersenyum dan menyapa ketika berpapasan itu bukan hal sulit bagiku.

Namun diluar kehidupan bertetangga sungguh aku kangen bertemu dengan teman-teman ku, aku kangen event ngeblog, kangen hangout bersama geng teman kuliah, dan tentunya aku merindu untuk mengunjungi orang tuaku.

Pandemi mengubah cara bersilaturahmi, untungnya pandemi Covid-19 terjadi saat ini dimana teknologi sudah canggih. Paling tidak kita masih bisa menyapa dengan melihat wajah, ngobrol dengan banyak orang dalam satu layar dan event ngeblog pun kini dilakukan secara online. Pertemuan lewat jaringan internet terkadang terasa simple namun bagiku tak bisa menggantikan silaturahmi sebelum adanya pandemi.

Beberapa kali aku melakukan silaturahmi pada masa pandemi, ternyata memang tak seleluasa dulu. Masker membuat kami susah bicara, gaya photopun berjarak, belum lagi perasaan nggak enak yang kerap membuat lengah sehingga memang lebih baik tak bertemu dahulu.

Protokol kesehatan menjadi syarat wajib sebuah silaturahmi tapi nyatanya kalau sudah berkumpul sangat susah menjalankan prokes, semua berdalih 'gue sehat' padahal kita nggak tau apakah memang demikian adanya. Kini ketika ada pertemuan terpaksa isi buku tamu tujuannya supaya mudah melakukan tracing bila ada yang positive, bahkan beberapa mall juga mencatat pengunjung buat berjaga-jaga. Pandemi mengubah kita!

Tapi kalau ditanya aku sih berayukur ya karena nggak harus repot menjamu tamu, saat lebaran nggak harus mengeluarkan budget lebih buat kue, dan urusan ulang tahun anak juga bisa tak mengeluarkan budget bahkan menikahpun jadi sederhana dan kesempatan untuk menghemat budget hehe.

Meski merasa tertolong oleh pandemi namun aku berharap pandemi segera berakhir, bukan..bukan buat kumpul-kumpul melainkan ada banyak duka ketika pandemi ini hadir. Dan harapanku kalau pandemi berakhir maka kebiasaan baru kita tetap dijalankan, nggak usah sering-sering ngumpul hehe .

Dan jangan jadikan pandemi alasan untuk tak saling mendoakan ya, mumpung berjarak maka dekatkan aku dalam doa kalian dan inshaallah doaku untuk kalian.

0 Komentar

Komen ya biar aku tahu kamu mampir