Aku Tidak Lagi Mengejar Jumlah Buku, Tapi Kedalaman Membaca
Jujurnya, aku tidak bisa menjawabnya dengan angka. Sudah lama sekali aku tidak menamatkan buku secara rutin. Beberapa tahun terakhir, aku lebih akrab dengan layar kaca untuk menonton film, serial, atau konten pendek yang mengalir tanpa perlu banyak usaha. Cerita datang padaku dengan cepat, emosi disajikan secara instan, dan aku tinggal duduk menerima.
![]() |
| Di Antara Layar dan Halaman Buku |
15 tahun sebelum ahri ini aku masih rutin membeli dan mengoleksi buku bacaan, bahkan beberapa teman yang tahu aku suka baca memberikan ahdiah banyak buku saat aku menikah. Faktanya setelah menikah hampir seluruh kegiatan rumah tangga aku lakukan sendirian dan akhirnya menyerah pada waktu luang yang biasa aku gunakan untuk membaca buku. Dan suatu hari aku sadar, ada perbedaan besar antara mengonsumsi cerita dan mengalami cerita.
Ketika Menonton Terasa Lebih Mudah daripada Membaca
Menonton memberiku hiburan. Dalam waktu singkat, aku bisa tertawa, menangis, atau marah bersama tokoh di layar. Semuanya serba cepat dan praktis. Namun setelah selesai, sering kali cerita itu ikut berlalu begitu saja, bahkan judul, pemeran dan tokohnya mendadak terlupakan dan tak jarang beberapa film baru ku sadari sudah ku tontotn ketika menjelang film berakhir
Lalu aku teringat saat aku suka membaca dan akhirnya aku simpulkan bahwa membaca itu berbeda. Ia menuntut kehadiran penuh. Otak tidak sekadar menerima gambar dan suara, tetapi bekerja membangun imajinasi, mengolah makna, dan merasakan emosi lewat kata demi kata. Membaca membuatku berhenti sejenak, berpikir, bahkan berdialog dengan diri sendiri dan tak jarang beberapa kalimat harus aku ulangi sampai aku bisa menemukan maknanya.
Aku mulai menyadari, menonton membuat otakku lebih pasif, sementara membaca memaksanya tetap aktif. Menonton mengalirkan cerita. Membaca mengajakku masuk ke dalamnya.
Buku yang Kubaca Bukan karena Target, tapi karena Rasa Penasaran
Tahun ini, aku memang tidak memasang target jumlah buku. Tapi aku kembali membaca, meski perlahan. Salah satunya adalah sebuah ebook berjudul Broken Strings, yang ramai dibicarakan setelah kisah Aurellie viral, jelaslah aku abca karena penasaran dengan kasus yang viral itu hehe.
Aku membacanya bukan karena ingin terlihat produktif atau memenuhi tantangan membaca, melainkan karena rasa penasaran. Kisah tentang relasi yang retak, luka batin, dan pergulatan emosi itu terasa dekat dengan realitas banyak perempuan. Mungkin itulah yang membuatku bertahan hingga halaman demi halaman.
Dari situ aku belajar satu hal penting: minat sering kali lebih kuat daripada komitmen yang dipaksakan.
Komitmen Membaca Versiku: Realistis dan Jujur
Aku berhenti menuntut diri untuk membaca seperti “pembaca ideal”. Aku tidak lagi memaksa satu buku harus selesai dalam waktu singkat. Komitmen membacaku kini sederhana:
Memilih ebook, karena lebih fleksibel
Membaca di sela waktu, bukan menunggu waktu khusus
Mengganti sebagian scrolling tanpa tujuan dengan beberapa halaman bacaan
Berhenti saat lelah, lalu melanjutkan tanpa rasa bersalah
Bagiku, satu buku yang selesai dengan kesadaran penuh jauh lebih bermakna daripada banyak buku yang hanya dibuka di halaman awal.
Membaca dan Menonton: Bukan Soal Mana yang Lebih Baik
Aku tidak ingin menghakimi kebiasaan menonton—karena aku pun masih menikmatinya. Tapi kini aku paham perbedaannya. Menonton membuatku cepat kenyang. Membaca membuatku pelan-pelan tumbuh.
Membaca melatih kesabaran, empati, dan daya pikir. Ia mengajarkanku untuk duduk lebih lama dengan satu gagasan, satu konflik, satu sudut pandang. Di tengah dunia yang serba cepat, membaca justru memberiku ruang untuk melambat.

0 Komentar
Komen ya biar aku tahu kamu mampir