Assalamu'alaikum,
Tema kali ini membahas hidup minimalis, bagiku, hidup minimalis bukan berarti berhenti suka tampil rapi atau estetik. Aku tetap suka pakaian yang enak dilihat, nyaman dipakai, dan punya karakter.
![]() |
| 5 Ide Permak Baju Lama: Caraku Hidup Minimalis Tanpa Kehilangan Estetika |
Bedanya sekarang, aku lebih sering “menciptakan ulang” daripada membeli. Baju lama tapi dipakai juga jarang, kualitas masih bagus dan hal ini membuatku berpikir daripada baju lama menumpuk dan berakhir jadi penghuni tetap lemari, aku memilih memermaknya. Dan ternyata, dari situ aku belajar tentang rasa cukup.
Aku memang nggak bisa menjahit namun ada banyak ide desain busana dalam kepalaku. Dulu pas kuliah aku punya penjahit langganan yang biayanya murah makanya aku suka membeli bahan baju dan merancang modelnya lalu tukang jahit akan mengeksekusinya nah kebiasaan ini berkembang untuk mendesain ulang baju lama, tanpa beli baju baru tapi jadi punya baju baru hehe.
Ini 5 ide permak baju yang pernah aku lakukan, siapa tahu menginspirasi kalian ya!
1. Gamis Lama Jadi Atasan dan Rok
Gamisku ada banyak, kadang alasan ku nggak memakainya lagi karena modelnya sudah terasa membosankan. Bahannya masih bagus, sayang kalau dibuang. Akhirnya aku potong menjadi dua bagian.
Bagian atas jadi blouse. Bagian bawah jadi rok. Seketika aku punya dua outfit baru dari satu gamis lama. Rasanya seperti menemukan harta karun di lemari sendiri.
2. Tunik Jadi “Daster Premium”
Ide kedua jika kalian punya tunik dan udah gak up to date atau terlalu formal untuk dipakai maka saatnya ubah fungsi tunik kalian. Yang kerap aku lakukan adalah mengubah tunik menjadi daster premium. Aku potong lengannya, sedikit aku sesuaikan potongannya, dan jadilah daster yang tetap terlihat elegan.
Nyaman dipakai di rumah, tapi tetap bikin aku merasa rapi. Buatku, menjadi ibu di rumah bukan alasan untuk tampil asal. Tapi juga bukan alasan untuk terus belanja.
Atau kalian bisa juga mengubah tunik menjadi kemeja loh!
3. Kemeja Polos + Patch = Karakter Baru
Ide ketiga adalah mengubah kemeja polos menjadi ceria, caranya? Kemeja polos ya aku tempelin patch kecil.
Ternyata efeknya besar.
Baju yang tadinya biasa saja jadi punya aksen dan cerita. Kadang memang yang kita butuhkan bukan barang baru, tapi sentuhan baru.
4. Kemeja Bermotif Disulap Jadi Gamis
Ini eksperimen paling seru gengs, jadi aku pernah menyambung kemeja bermotif dengan potongan gamis lain yang sudah jarang kupakai. Aku tambal, aku kombinasikan, aku sesuaikan modelnya.
Hasilnya unik. Tidak pasaran. Dan yang paling penting, itu hasil kreativitas sendiri. Kadang temanku berpikir aku beli baju baru dan ketika aku ingatkan mereka bahwa itu adalah kombinasi baju lama maka mereka kagum dan bilang 'kepikiran aja sih' hehe
5. Celana Kulot Lebar Jadi Rok
Pernah teman komen 'ih rok baru ya' dan pas aku kasih tahu bahwa rok itu adalah kulot maka pada kaget. Dan ini salah satu permak favoritku.
Aku punya celana kulot lebar yang modelnya sudah terasa kurang cocok. Daripada tergeletak, aku ubah menjadi rok.
Strukturnya sebenarnya sudah mendekati rok, jadi tinggal menyesuaikan bagian tengah dan jahitannya. Setelah jadi, tampilannya justru lebih flowy dan feminin.
Dari satu potong celana, aku mendapatkan rok yang terasa baru tanpa mengeluarkan uang yang banyak.
Penjahit Keliling, Partner Minimalisku
Selain utak-atik sendiri, aku juga sering memanfaatkan jasa penjahit keliling. Selain harganya murah, mereka kerap mau mengeksekusi berbagai ide yang ku punya.
Urusan dengan tukang jahit keliling bisa banyak hal, mulai resleting rusak? Ganti. Lengan kepanjangan? Potong. Baju kebesaran? Kecilkan. Potongan kurang pas? Sesuaikan. Bahkan mukena yang udah tampak kusam bisa diubah menjadi lebih fresh dengan sentuhan tukang jahit keliling.
Kadang biayanya jauh lebih murah daripada beli baru. Tapi nilai yang kudapat jauh lebih besar: rasa puas karena tidak menyerah pada barang hanya karena cacat kecil.
Di tengah budaya serba instan, memilih memperbaiki adalah sikap. Ada kepuasan yang berbeda ketika kita memberi umur kedua pada pakaian.
Minimalis Itu Soal Rasa Cukup
Minimalis yang kupahami bukan tentang membatasi diri secara kaku. Aku tetap suka hal yang estetik. Tetap suka tampil rapi.
Tapi aku belajar tidak selalu mengasosiasikan “baru” dengan “bahagia”.
Bahagia bisa datang dari:
memotong gamis lama jadi dua outfit baru,
mengubah tunik jadi daster nyaman,
menyambung kain menjadi gamis unik,
mengubah kulot jadi rok,
atau sekadar mengganti resleting agar baju kembali layak pakai.
Tidak semua keinginan harus dipenuhi dengan transaksi.
Kadang cukup dengan kreativitas.
Kadang cukup dengan memperbaiki.
Dan sering kali, cukup dengan belajar merasa cukup.
Merawat, Bukan Mengganti
Dari kebiasaan kecil memermak baju ini, aku belajar satu hal yang lebih dalam.
Bahwa hidup pun sebenarnya tidak selalu butuh yang baru.
Kadang hanya perlu diperbaiki. Disesuaikan. Disambung kembali bagian yang terasa kurang.
Di tengah dunia yang mendorong kita untuk terus membeli dan mengganti, memilih merawat adalah bentuk keberanian.
Keberanian untuk berkata:
“Aku cukup.”
“Yang ada ini masih bisa diusahakan.”
“Aku tidak harus selalu mengikuti tren.”
Permak baju mungkin terlihat sederhana. Tapi bagiku, itu latihan mengelola diri. Mengelola keinginan. Mengelola rasa ingin lebih.
Dan setiap kali aku berhasil menghidupkan kembali pakaian lama, aku merasa sedang merawat sesuatu yang lebih besar dan bukan hanya lemari, tapi juga pola pikirku.
Minimalis bukan tentang kekurangan.
Minimalis adalah tentang kesadaran.
Dan dari jarum, benang, dan potongan kain lama… aku belajar bahwa rasa cukup itu bisa dijahit pelan-pelan. 🤍

0 Komentar
Komen ya biar aku tahu kamu mampir