Circle Pertemanan: Banyak, Ada, Tapi Tidak Harus Dalam
Tema ODOP kali ini tuh kira-kira begini punya berapa circle pertemanan sih kalian? Jika dihitung satu per satu, mungkin jumlahnya tidak sedikit. Tapi jika ditanya mana yang benar-benar akrab, jawabanku justru sederhana: sepertinya tidak ada yang benar-benar dalam.
Aku tumbuh dengan ritme hidup yang berpindah-pindah. Papa kerap pindah tugas, dua tahun sekali. Dampaknya, sekolah dan rumah pun ikut berpindah. Dari satu kota ke kota lain, dari ujung ke ujung Pulau Sumatera. Tanpa sadar, pola hidup ini membentuk caraku berteman.
Aku terbiasa datang, beradaptasi, lalu berpamitan.
![]() |
| Circle Pertemanan: Banyak, Ada, Tapi Tidak Harus Dalam (Made by ChatGPT) |
Teman Datang dan Pergi, Tapi Silaturahmi Tetap Dijaga
Karena sering berpindah, aku punya teman di banyak daerah. Teman SD, SMP, SMA, bahkan teman masa kecil yang kini tersebar di berbagai kota. Menariknya, meski jarang berkomunikasi intens, ikatan itu tidak benar-benar putus. Dari era kirim surat hingga chatting whatsapp alhamdulillah aku masih terhubung dengan beberapa teman kecilku.
Bagiku, menjaga silaturahmi itu penting. Tidak harus setiap hari saling menyapa, tapi ketika aku menghubungi mereka entah mengajak bertemu, mampir sebentar, alhamdulillah responnya selalu hangat. Ada yang rela menjemput, menjamu, bahkan meluangkan waktu khusus hanya karena rindu.
Di titik itu aku sering tersadar: mungkin aku memang tipe teman yang care. Meski jujur saja, menurutku apa yang kulakukan biasa saja. Tidak berlebihan, tidak juga intens. Sekadar hadir dengan niat baik. Dan beberapa komentar dari teman-temanku katanya aku tulus, nggak berteman hanya untuk mendapatkan keuntungan. Maklum ya ges ya teman-temanku rerata memang anak the have istilah dari orang kaya pada masa dulu hehe. Kalau dipikir-pikir bisa dong nebeng dibeliin barang yang sama, atau sekedar nebeng jemputan supirnya. Namun alhamdulillah Mamak Papa selalu membuat kami bersyukur atas apa yang kami miliki dan tak perlu iri dengan kepunyaan orang lain.
So saat ini ada berapa circle pertemananku? Kalau mau diklasifikasi ya nggak banyak sih dan aku mau bahas yang relate sama kehidupanku saat ini saja ya
Circle Kantor: Profesional dan Seperlunya
Saat ini, circle yang paling aktif tentu saja teman kantor. Tapi relasi ini sangat jelas batasnya. Aku berteman untuk urusan pekerjaan dan aktivitas kantor. Di luar itu, aku jarang menghubungi mereka.
Bukan karena tidak peduli, tapi karena bagiku setiap hubungan punya konteks dan tujuan. Lingkungan kerja adalah ruang profesional. Aku hadir dengan peran itu, dan merasa cukup di sana.
Circle Orang Tua Murid: Demi Anak
Ada juga circle sesama orang tua murid. Hubungan ini terbentuk karena anak-anak kami bersekolah di tempat yang sama. Interaksinya pun berkisar pada urusan sekolah, kegiatan anak, atau koordinasi sederhana.
Sesekali aku ikut arisan, bukan karena kebutuhan sosial semata, tapi agar bisa akrab dan menjaga keharmonisan. Lagi-lagi, aku hadir seperlunya.
Circle Blogger: Kolaboratif, Bukan Personal
Aku juga punya circle blogger. Di sini aku banyak belajar, bertukar ide, dan berjejaring. Namun, hubungan ini pun kujalani sesuai fungsinya: untuk urusan ngeblog.
Kadang aku heran sekaligus salut pada teman-teman yang bisa tetap terhubung sangat dekat meski tidak lagi terikat oleh kerja, sekolah, atau proyek yang sama. Mereka bisa mengobrol panjang, berbagi cerita personal, dan saling hadir secara emosional.
Aku? Sepertinya tidak ke arah sana.
Tidak Semua Hubungan Harus Dalam
Aku tidak tahu pasti kenapa aku enggan terlibat terlalu dalam dalam sebuah hubungan pertemanan. Bukan trauma, bukan pula antipati. Mungkin karena sejak kecil aku terbiasa mandiri secara emosional.
Bagiku, hidupku sudah terasa penuh. Ada diriku sendiri, keluarga inti, dan keluarga besar yang menjadi pusat energi dan perhatianku. Circle pertemanan hadir sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama.
Keberadaan mereka memperkaya wawasan, membuka perspektif, dan memperluas cara pandang. Itu sudah lebih dari cukup.
Dirindukan, Tapi Aku Biasa Saja
Ada satu hal yang sering membuatku merenung. Beberapa temanku mengaku sangat merindukanku. Mengingat kebersamaan lama, menyebut namaku dengan hangat. Sementara aku, jujur saja, merasa biasa saja.
Bukan berarti aku tidak menghargai. Hanya saja, perasaanku tidak pernah meledak-ledak. Mungkin karena aku sudah berdamai dengan konsep hadir dan pergi.
Manfaat Memiliki Banyak Circle Pertemanan
Seiring waktu, aku menyadari bahwa memiliki banyak circle pertemanan meski tidak semuanya dekat namun tetap memberi manfaat nyata dalam hidupku.
Pertama, memperluas wawasan dan cara pandang. Setiap circle membawaku pada cerita, latar belakang, dan sudut pandang yang berbeda. Teman kantor mengajarkanku dinamika profesional, circle orang tua murid memberiku perspektif tentang tumbuh kembang anak, sementara circle blogger membuka cakrawala ide dan kreativitas.
Kedua, melatih adaptasi dan empati. Karena terbiasa berpindah dan masuk ke lingkungan baru, aku belajar membaca situasi, menyesuaikan diri, dan menghargai perbedaan tanpa harus memaksakan kedekatan.
Ketiga, memperluas jaringan tanpa beban emosional. Banyak circle membuatku punya koneksi di banyak tempat. Ketika suatu hari aku kembali ke sebuah daerah, selalu ada pintu yang terbuka. Bukan karena aku sering hadir, tapi karena niat baik yang dulu pernah kutanam.
Keempat, menjaga keseimbangan hidup. Aku tidak menggantungkan kebahagiaan pada satu circle saja. Hidup terasa lebih stabil karena pusat energiku tetap pada diri sendiri dan keluarga, sementara pertemanan menjadi ruang berbagi yang sehat.
Kelima, membantuku mengenal diri sendiri. Dari banyak interaksi, aku semakin paham bahwa aku bukan tipe yang membutuhkan kedekatan intens. Dan itu tidak salah. Mengenal batas diri justru membuatku lebih jujur dalam menjalani hubungan.
Banyak Circle, Banyak Manfaat—Tanpa Harus Melekat
Memiliki banyak circle bukan berarti harus terikat kuat pada semuanya. Setiap circle punya fungsi, cerita, dan porsinya masing-masing. Dan tidak apa-apa jika kedekatan itu tidak selalu emosional.
Yang penting, tetap berbuat baik. Tetap menjaga adab. Tetap membuka pintu silaturahmi.
Aku belajar bahwa pertemanan tidak selalu soal intensitas, tapi soal ketulusan saat hadir meski sebentar.
Dan mungkin, begitulah caraku mencintai manusia: dengan jarak yang sehat, niat yang baik, dan hati yang tenang.

0 Komentar
Komen ya biar aku tahu kamu mampir