Cara Aku Terkoneksi dengan Diri Sendiri agar Tetap Merasa Hidup
Pernah nggak sih kalian bertanya pada diri sendiri "mau mu apa sih Li?"
Beberapa kali aku dengan sadar bertanya, dan kadang menemukan jawabannya kadang juga tidak. Di tengah ritme hidup yang kadang terasa seperti mesin karena melakukan rutinitas yang sama dan berulang mulai dari bangun, bekerja, mengurus rumah, menyelesaikan tanggung jawab dengan semua status yang melekat pada diri, lalu sadar apakah aku memang menikmati semuanya?
![]() |
| Sudahkah kau mengenal aku? |
Bukan sekadar bernapas. Tapi hidup.
Ada yang nonton Cash Hero? Drama Korea yang menceritakan seseorang memiliki kekuatan super namun setiap dia melakukan kebaikan maka uang di dompetnya menipis. Saat itu aku tersadar bahwa memang Tuhan itu Maha Kaya, kebayang nggak kalau dalam setiap helaan nafas, setiap hal baik kita harus bayar ke Tuhan? Bangkrut guys! Dan seiring waktu, aku menyadari bahwa merasa hidup itu bukan tentang liburan mahal atau pencapaian besar. Justru sering kali ia lahir dari cara aku terkoneksi dengan diriku sendiri.
1. Menerima Ketentuan Tuhan, Tanpa Syarat
Cara paling dalam aku terkoneksi dengan diriku adalah ketika aku belajar menerima semua ketentuan Tuhan.
Bukan pasrah yang lemah. Tapi menerima dengan sadar. Dan ini nggak singkat, aku belajar banyak dari pengalaman orang tuaku, dari mereka aku paham mau marah, mau bahagia maka semuanya punya konsekuensi dan pada akhirnya ketika mampu menerima maka semua hal selalu ada hikmahnya.
Saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, aku berhenti sejenak dan berkata dalam hati, “Mungkin ini memang jalanku.” Kalimat sederhana itu seperti tombol jeda. Ia menenangkan pikiranku, meredakan gejolak, dan membuatku kembali utuh.
Aku merasa hidup ketika aku berhenti melawan takdir dan mulai berdamai dengannya. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan—seolah hatiku berkata, semua sudah diatur, tugasku hanya menjalaninya dengan ikhlas.
Di situ aku merasa terkoneksi. Dengan Tuhan. Dengan diriku sendiri.
2. Shopping, Bahkan Jika Hanya Window Shopping
Mungkin terdengar sepele, tapi salah satu cara tercepat aku merasa bahagia adalah dengan shopping.
Tak selalu belanja sungguhan. Kadang hanya window shopping. Melihat-lihat barang, memegang kain, mencoba sepatu, atau sekadar membayangkan kalau benda itu jadi milikku.
Ada rasa menyenangkan saat aku memberi waktu untuk diriku sendiri. Bukan sebagai ibu, bukan sebagai pekerja, bukan sebagai istri. Tapi sebagai aku.
Shopping bagiku bukan soal menghabiskan uang. Ia adalah bentuk self-reward kecil. Bentuk pengakuan bahwa aku juga berhak menikmati sesuatu. Bahkan sekadar melihat-lihat etalase pun sudah cukup membuatku merasa ringan.
3. Introspeksi, Bukan Menyalahkan
Dalam interaksi dengan manusia, tentu tak selalu manis. Ada kalanya aku merasa tidak diperlakukan dengan baik. Ada ucapan yang menggores. Ada sikap yang membuatku tak nyaman.
Dulu mungkin aku akan kecewa panjang.
Tapi sekarang, hal paling mudah yang aku lakukan adalah introspeksi diri.
Bukan berarti aku selalu salah. Tapi dengan melihat ke dalam, aku merasa lebih berdaya. Aku tidak menggantungkan kebahagiaanku pada perubahan orang lain.
Saat aku berani jujur pada diri sendiri, di situlah aku merasa hidup. Karena aku tumbuh. Karena aku belajar.
Dan setiap kali aku menemukan jawabannya, ada perasaan lega yang tak bisa dibeli dengan apa pun.
4. Hidup Itu Soal Pulang ke Dalam
Banyak orang terkoneksi dengan diri lewat jurnaling, meditasi, atau traveling. Aku pun menghargai semua itu. Tapi versiku sederhana.
Itulah caraku pulang ke dalam.
Karena pada akhirnya, merasa hidup bukan tentang seberapa ramai dunia menyapaku. Tapi seberapa dalam aku mengenal dan menerima diriku sendiri.
Dan setiap kali aku berhasil berdamai dengan takdir, tersenyum setelah window shopping, atau menemukan pelajaran dari interaksi yang tak mengenakkan—aku tahu satu hal:

0 Komentar
Komen ya biar aku tahu kamu mampir