10 Tahun Lalu di Dunia Blogging: Saat Menulis Masih Soal Hati, Bukan Rate Card

10 Tahun Lalu di Dunia Blogging: Saat Menulis Masih Soal Hati, Bukan Rate Card

Assalamu'alaikum,

Alhamdulillah tema kali ini sungguh membawa memori ku ke tahun 2016, 10 tahun lalu tuh ngeblog terasa asik kok bisa bukannya beum cuan ya Li?

Yup! 10 tahun lalu sebelum istilah rate card, media kit, dan paid review menjadi percakapan sehari-hari di dunia blogger, blogging lebih dulu dikenal sebagai ruang berbagi cerita. Sepuluh tahun lalu, banyak dari kita menulis tanpa memikirkan nilai komersial dari sebuah tulisan. Blog dan platform menulis menjadi tempat mencurahkan pengalaman, opini, bahkan keresahan hidup. Rasanya seperti memiliki buku harian yang bisa dibaca siapa saja.

Dunia blogger 10 tahun lalu
10 Tahun Lalu di Dunia Blogging:
Saat Menulis Masih Soal Hati, Bukan Rate Card

Tahun 2016 adalah salah satu fase yang sangat terasa dalam perjalanan dunia blogging. Saat itu aku sudah beberapa tahun menulis di Kompasiana, tetapi belum memiliki blog pribadi. Menulis masih terasa sangat sederhana. Aku menulis karena ingin menulis, karena ada cerita yang ingin dibagikan, atau karena ada pemikiran yang ingin dituangkan. Rasanya dengan menulis bisa mengurangi isi kepala dan perasaan jauh lebih bahagia.

Jujurly saat itu belum ada bayangan bahwa suatu hari nanti blogging akan begitu dekat dengan proposal kerja sama, campaign brief, atau angka-angka dalam rate card. Saat itu, menulis terasa lebih bebas dan justru menulis adalah kebiasaan baik tanpa beban target klien atau tuntutan algoritma.

Yang paling terasa pada masa itu justru adalah ertemanan sesama blogger, kehangatan komunitasnya dengan berbagai event dan tema blogging. 

Hal-Hal yang Hanya Dirasakan Blogger 10 Tahun Lalu

Blogwalking yang Dilakukan dengan Sungguh-sungguh
Sepuluh tahun lalu, blogwalking adalah kegiatan yang benar-benar dilakukan dengan hati. Kita membuka satu blog ke blog lain, membaca tulisan sampai selesai karena memang ingin dan penasaran, lalu meninggalkan komentar yang panjang dan tulus. Bukan sekadar “nice post” atau meninggalkan jejak link. Kolom komentar sering kali menjadi ruang diskusi yang hidup bukan mengejar algoritma.

Komentar Panjang yang Kadang Lebih Seru dari Artikelnya
Banyak tulisan berkembang justru dari percakapan di kolom komentar. Pembaca berbagi pengalaman mereka, menambahkan sudut pandang baru, bahkan terkadang memperkaya cerita yang kita tulis. Interaksi seperti ini membuat blogging terasa seperti ruang pertemuan ide, tak jarangd ari komentar lahir pula tulisan baru.

Menulis Tanpa Target Klien
Saat itu menulis terasa ringan. Kita bisa menulis tentang apa saja dari hal receh tentang rasa, tentang perjalanan, pengalaman kerja, cerita keluarga, atau sekadar refleksi kehidupan sehari-hari. Tidak ada bayangan tentang deliverables, brief, atau laporan kampanye.

Komunitas Blogger yang Hangat
Dunia blogging juga mempertemukan banyak orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Banyak komunitas blogger lahir, dan dari sanalah persahabatan terbentuk. Kita bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda tetapi memiliki satu kesamaan: senang menulis.

Kebahagiaan Sederhana : Dibaca Orang Lain
Dulu, melihat tulisan dibaca orang lain sudah terasa sangat menyenangkan. Apalagi jika ada pembaca yang meninggalkan komentar bahwa tulisan kita bermanfaat atau menginspirasi. Rasanya seperti menemukan alasan baru untuk terus menulis dan ada rasa bangga kita berhasil menerbitkan satu artikel yang disebut organic post.

Ketika Dunia Blogging Mulai Berubah

Seiring waktu, dunia blogging mulai berkembang. Brand mulai melihat blogger sebagai medium komunikasi yang efektif. Dari sinilah muncul istilah paid review, media kit, hingga rate card. Blogging yang sebelumnya identik dengan hobi perlahan berubah menjadi ruang profesional.

Perubahan ini tentu tidak sepenuhnya buruk. Banyak blogger yang akhirnya bisa mendapatkan penghasilan dari kemampuan menulis mereka. Kolaborasi dengan brand juga membuka peluang baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Namun di tengah semua perkembangan itu, ada satu hal yang kadang terasa berbeda: ritme menulis yang dulu terasa sangat bebas kini sering kali berdampingan dengan berbagai tuntutan profesional.

Menjaga Hati dalam Dunia yang Berubah

Sepuluh tahun lalu, bagiku blogging belum menjanjikan penghasilan. Namun justru di situlah letak keindahannya. Aku menulis karena ingin bercerita, membaca karena ingin mengenal orang lain, dan berteman karena memiliki kesukaan yang sama.

Hari ini dunia blogging sudah jauh berkembang. Banyak blogger yang lebih profesional, lebih terstruktur, bahkan menjadikan blog sebagai bagian dari karier mereka.

Salut melihat teman-teman blogger yang memutuskan 100% ngeblog sebagai mata pencahariannya. Yang penting, menurutku, adalah kami semua tahu alasan awal kami menulis.

Karena pada akhirnya, tulisan yang paling kuat bukanlah yang sekadar mengikuti tren atau kampanye, tetapi yang lahir dari hati. Dan mungkin, di situlah esensi blogging sepuluh tahun lalu masih bisa kita temukan hingga hari ini.

Tahun-tahun itu, bagiku blogging adalah ruang bernapas. Setelah rutinitas kantor, aku pulang atau bahkan di dalam perjalanan dengan mudah aku membuat artikel lewat gadget bukan untuk mengejar deadline klien, tapi untuk menuangkan isi kepala.

Aku menulis tentang keresahan, pengalaman kerja, keluarga, opini sosial, bahkan sekadar refleksi sederhana tentang hidup. Tidak ada target pageview. Tidak ada optimasi SEO. Tidak ada kalimat yang sengaja dipoles agar “brand-friendly”. Yang ada hanya satu: kejujuran, dan mungkin itu yang paling aku rindukan sekarang. 

Titik Balik di Akhir 2016

Menjelang akhir 2016, aku mulai mendengar satu kata yang sebelumnya asing di dunia tulisku: cuan.

Ternyata, ngeblog bisa menghasilkan uang.

Ada job review.
Ada sponsored post.
Ada campaign.
Ada brand yang mau membayar tulisan.

Awalnya aku terkejut. Serius? Menulis bisa dibayar?

Dari situ perlahan aku mulai berpikir untuk membuat blog pribadi dengan domain berbayar. Rasanya seperti naik level. Dari sekadar menulis di platform komunitas, aku mulai membangun “rumah” sendiri.

Dan di situlah fase baru dimulai. 

Dari Hobi ke Profesional

Memiliki blog pribadi mengubah banyak hal. Aku belajar soal domain, hosting, traffic, analytics, SEO, media kit, hingga negosiasi harga. Aku mulai mengenal istilah rate card. Dan jujur saja, rasanya menyenangkan ketika tulisan dihargai secara materi. Ada validasi. Ada pengakuan. Ada pemasukan tambahan. Aku tidak memungkiri, fase itu penting. Bahkan mungkin perlu.

Namun, di tengah perjalanan menjadi lebih profesional, ada satu hal yang perlahan terasa berubah.

Ketulusan. 

Apa yang Aku Rindukan?

Kalau ditanya, apa yang paling aku rindukan dari era blogging 10 tahun lalu?

Jawabannya sederhana: ketulusan.

Ketulusan dalam menulis.
Ketulusan dalam berteman.
Ketulusan dalam berbagi.

Dulu, aku menulis karena ingin menulis. Sekarang, kadang aku harus bertanya dulu: ini sesuai brief nggak? Keyword-nya masuk nggak? Angle-nya aman nggak?

Dulu, aku berteman tanpa memikirkan potensi kolaborasi. Sekarang, dunia blogging lebih terstruktur, lebih profesional, lebih strategis, tak jarang mau nggak mau menyapa hanya demi yang namanya koneksi. Dan tentu saja, tidak ada yang salah dengan itu, tapi rasanya memang berbeda.

Tidak punya rate card membuat segalanya terasa lebih ringan. Tidak ada beban performa. Tidak ada ekspektasi angka. Tidak ada kalkulasi nilai rupiah di balik setiap paragraf. Yang ada hanya kepuasan batin ketika tulisan selesai dan hati terasa lega. 

Apakah Semua Harus Kembali Seperti Dulu?

Mungkin tidak.

Waktu memang berjalan. Dunia digital berubah. Blogging berkembang menjadi industri. Banyak blogger yang kini menjadi content creator, influencer, bahkan pebisnis digital.

Itu progres.

Dan aku pun tumbuh bersama perubahan itu.

Tapi sesekali, aku ingin kembali menjadi versi diriku 10 tahun lalu dengan ringan dalam situasi apapun menuliskan berbagi isi kepala lewat gawaiku.

Yang menulis tanpa takut tidak dibayar.
Yang bahagia hanya karena tulisannya dibaca.
Yang bersyukur karena menemukan sahabat dari ruang maya. 


0 Komentar

Komen ya biar aku tahu kamu mampir