Mini Library yang Tidak Pernah Aku Bangun Kembali

Mini Library yang Tidak Pernah Aku Bangun Kembali

Punya pojok bacaan di rumah? Aneh nggak sih kalau aku bilang nggak punya? Bisa jadi tidak semua orang punya rak buku untuk dipamerkan, dan aku adalah salah satunya.

Tema “show your mini library” seharusnya sederhana. Tinggal menunjukkan satu rak kecil, beberapa buku favorit, lalu bercerita tentang bagaimana kita merawatnya. Jujurly emang nggak ada kecuali rak buku sekolah anak dan pasti bukan itu yang dimaksud dengan challange minggu ini.

Mini library
Masih ada pojok baca di rumah mu?


Dulu, Aku Pernah Dekat dengan Buku

Aku bukan orang yang benar-benar asing dengan buku. Pernah ada masa di mana membaca terasa menyenangkan. Tidak harus buku berat, tidak harus banyak, tapi cukup untuk membuatku merasa punya ruang sendiri.

Buku-buku itu seperti teman diam yang selalu ada. Bisa dibuka kapan saja, tanpa tuntutan, tanpa penilaian.

Sampai akhirnya hidup berjalan ke arah yang berbeda.

Setelah menikah, banyak hal berubah. Waktu terasa lebih sempit, perhatian terbagi, dan ruang-ruang di rumah tidak lagi sepenuhnya milikku. Sudut kecil yang dulu mungkin bisa diisi buku, perlahan hilang begitu saja.

Lalu datang satu kejadian yang cukup membekas : banjir.

Sebagian besar buku yang pernah aku simpan rusak. Tidak banyak yang bisa diselamatkan. Dan sejak itu, aku tidak hanya kehilangan buku sepertinya aku juga kehilangan keinginan untuk memulai lagi. 

Antara Ingin dan Tidak Melangkah

Kalau ditanya, apakah aku ingin punya mini library lagi?

Jawabannya: iya.

Aku bisa membayangkan punya satu rak kecil. Tidak perlu besar. Tidak perlu penuh. Cukup berisi buku-buku yang benar-benar ingin aku baca.

Tapi kenyataannya, aku tidak melangkah ke sana.

Selalu ada alasan yang terasa masuk akal: aku sibuk, aku lelah, atau aku merasa membaca bukan lagi prioritas. Dan semakin lama, jarak itu terasa makin jauh. Membaca bukan lagi kebiasaan, tapi sesuatu yang terasa asing.

Buku yang Tidak Lagi Aku Kejar

Sekarang, aku jarang membeli buku.

Kalau dulu aku mudah tertarik pada judul atau sampul, sekarang aku lebih sering menunda. Bahkan untuk sekadar membuka beberapa halaman, rasanya butuh niat yang tidak kecil.

Aku juga tidak punya daftar bacaan. Tidak ada target harus menyelesaikan buku tertentu. Dan jujur saja, aku tidak lagi memaksa diri untuk membaca sampai selesai.

Di titik ini, aku memilih untuk jujur: aku memang belum kembali ke sana.

Mini Library Versiku Hari Ini

Kalau orang lain punya rak kecil yang rapi dan terkurasi, mini library versiku hari ini berbeda.

Bukan berupa rak.
Bukan deretan buku.
Bukan juga koleksi yang siap ditunjukkan.

Melainkan keinginan yang masih tertunda.

Ada niat, tapi belum diwujudkan.
Ada ruang, tapi belum diisi.
Ada kemungkinan, tapi belum aku sentuh kembali.

Dan untuk sekarang, itu adalah kenyataan yang sedang aku jalani.

Jika Suatu Hari Aku Memulai Lagi

Aku tidak tahu kapan akan mulai lagi.

Mungkin bukan hari ini. Mungkin juga tidak dalam waktu dekat.

Tapi kalau suatu hari itu datang, aku ingin memulainya dengan cara yang lebih sederhana.

Tidak harus banyak.
Tidak harus cepat.
Tidak harus langsung selesai.

Mungkin cukup satu buku.
Satu tempat kecil.
Dan satu waktu tenang yang benar-benar aku izinkan untuk diriku sendiri.

Tulisan ini mungkin tidak menunjukkan apa-apa yang bisa dipamerkan. Tidak ada rak, tidak ada koleksi, tidak ada sistem pengelolaan buku yang rapi.

Tapi mungkin, ini juga bagian dari “show your mini library.”

Bahwa tidak semua orang sedang berada di tahap memiliki.

Ada yang sedang berada di tahap kehilangan.
Ada yang masih menunda.
Dan ada juga yang, seperti aku, masih berdiri di antara ingin dan belum memulai.

Dan ternyata, itu juga tidak apa-apa.

0 Komentar

Komen ya biar aku tahu kamu mampir