Showing posts with label #SMilewithme. Show all posts
Showing posts with label #SMilewithme. Show all posts

20170919

Yuk, Atur Uangmu Untuk Biaya Hidup Sehat dan Bebas Dari Middle Income Trap

Seorang pria di hadapan para emak bilang begini "sini mak! coba emak jalan biar gue tebak gaya hidup emak", yup beliau adalahFinancial Planner Aakar Abyasa Fidzuno selaku Founder Janus Financial. Siang itu hadir di hadapan para emak blogger dalam acara Blogger Gathering bersama SinarMas SMIG Life. 

SinarMas SMIG Life mengajak Kumpulan Emak Blogger (KEB) dalam sebuah gathering "Smart Mom, Protect Your Family's SMiLe". Bukan tanpa alasan yang diajak adalah emak-emak, hal ini tentu saja terkait erat dengan peranan Ibu yang multi tasking. Ibu itu selalu di andalkan dalam setiap situasi , bisa jadi dokter, jadi penasihat, bahkan ahli keuangan keluarga.

Keseruan Emak Blogger dan sinarmas MSIG Life (Sumber Poto @sinarmasMSIG)


SinarMas SMIG Life menyadari peranan Ibu dan dari sebuah riset ternyata literasi keuangan di Indonesia masih sangat rendah bahkan belum  menyentuh angka 30%. Sebagai salah satu lembaga swasta yang peduli akan hal ini SinarMas SMIG Life terus mengedukasi masyarakat (khususnya Ibu) agar semakin pintar dalam mengelola keuangan keluarga dan salah satu caranya dengan mengadakan pertemuan seperti kemarin di sebuah kawasan coworking space di daerah Kuningan. Bapak Suwandi Sitorus mengatakan bahwa salah satu komitmen SinarMas SMIG Life dalam membantu pemerintah (OJK Indonesia) adalah melakukan edukasi tentang keuangan sehingga masyarakat bisa lebih cerdas dalam mengelola uangnya. Banyak anak-anak yang tak bisa mengatur keuangan karena memang tak dibiasakan oleh orang tua, harapan Bapak Suwandi Sitorus setelah para emak hadir pada gathering ini paling tidak mulai bisa mengubah kebiasaan dan menularkan ilmu kelola keuangan yang baik untuk anak-anak nya.

20170429

Ibu Pekerja, Ibu Rumah Tangga ? #SMileinAja

Bicara topik yang pro dan kontra memang tak berkesudahan. Dan selalu ada semangat dalam setiap situasi yang kita pilih atau bahkan dipilihkan untuk kita. Tantangannya berbeda-beda, dan solusinya pun sesuai kemampuan masing-masing individu.

Bagiku setelah menikah, memiliki anak dan menjadi Ibu yang nota bene adalah seorang pekerja merupakan sebuah tantangan yang aku ciptakan dan harus aku hadapi sendiri juga. Awal memiliki anak dan selama masa cuti melahirkan adalah masa yang membahagiakan, makhluk kecil itu mampu menyedot semua perhatianku, dan sampailah aku pada akhir masa cuti, sebuah dilema muncul "apakah aku harus meninggalkan makhluk yang mungil ini?", "jahatkah aku bila mengambil keputusan untuk tetap bekerja?", atau menjadi ibu rumah tangga akan menjadi solusi atau justru masalah baru akan hadir ?". Batinku bergejolak, sebuah ragu hadir di hati, ingin mendampingi anak selama 24 jam adalah impianku, namun realita berkata lain bahwa bekerja adalah wujud komitmen untuk membantu suami dalam mengarungi rumah tangga kami.

Akupun mengajarkan anak2 untuk tersenyum dikala menghadapi tantangan


Akhirnya akupun memilih untuk bekerja kembali, linangan air mata setiap kali berangkat kerja, senyuman yang ku paksa hadir untuk melepas anakku, dan akhirnya aku menyerah karena aku selalu merindu harum tubuhnya, merindu suara lucunya. Akupun mengajukan cuti khusus, selama 3 bulan aku bisa menemani anak ku selama 24 jam, dan seperti dugaan ku sebuah masalah baru muncul, aku merasa jenuh dan lelah. Sebelumnya aku memang lelah tetapi selalu ada energi baru setiap aku menatap mata anak ku, dulu meski air mata berlinang namun dalam perjalanan aku tetap mampu tersenyum melihat poto atau rekaman anak ku. Kini setelah menjadi ibu rumah tangga, setelah aku bersama anak ku selama 24 jam, entah mengapa aku merasa lelah, mendadak aku butuh ruang dan waktu untuk diriku, entah kemana rindu itu ?



Ternyata menjadi seorang ibu rumah tangga tak mampu membahagiakan ku, menjadi ibu pekerja pun tak sepenuhnya membahagiakan, akan tetapi hidup adalah tantangan dan terkadang hanya butuh senyuman untuk menghadapinya, SMilein Aja ! Aku sudah berada di dua posisi yang diinginkan semua perempuan, dan saatnya aku memilih, menghadapi setiap tantangan dengan senyuman. Pada akhirnya aku memilih untuk kembali bekerja, dan akupun mendapatkan apa yang aku inginkan, ternyata untuk bisa menghadapi sebuah tantangan hanya butuh penerimaan, aku menerima keadaanku dan mulai menikmatinya.