20160209

Teori Six Degree of Separation

Sahabat bukanlah hal aneh bagi kehidupanku. Karena Papa yang sering berpindah tugas maka aku mempunyai banyak sahabat diberbagai daerah. Sahabat yang pernah kutemui lalu terpisah oleh jarak  masih terikat silaturahim bernama Sahabat Pena, surat menyurat melalui pos, berujung koleksi prangko dan kegiatan filateli. 

Perkembangan zamanpun membuat kegiatan sentuhan silaturahim melalui pena tergantikan oleh keypad digenggaman jemari, SMS dari handphone menggantikan semuanya. Tak lama berselang kemajuan semakin canggih bukan hanya bisa menyentuh dengan say "apa kabar ?" bahkan akupun bisa melihat kegiatan apa yang dilakukan teman dari pagi sampai malam, berlibur kemana?, luar biasa rasanya dunia yang bernama "internet". 

Perkenalan dengan orang-orang tak dikenal pun berlanjut didunia ini "Sahabat Digital" namanya. Banyak media sosial untuk menemukan sahabat digital ini (Friendster, Multiply, Facebook, Google +, Tagged dll). Niatan mempunyai sahabat digital ini beragam dari yang hanya sekedar mengkoleksi angka jumlah pertemanan, mencari informasi baru,  sampai mencari jodoh :), bahkan kasus penipuan dari sahabat digitalpun tak terelakkan. 


Tulisan ini pernah di cetak 


Tapi aku sangat yakin bahwa beberapa dari sahabat digital yang kita temui pada akhirnya terkait juga dengan sahabat didunia nyata, paling tidak inilah yang aku alami selama beberapa tahun terakhir ini. Dalam pencarianku tentang kaitan sahabat digital dengan dunia nyata aku menemukan sebuah "Teori Six Degree of Separation" sebuah teori tentang bahwa ada enam orang yang bisa mengantarai dua orang perfect strangers/bahwa hubungan antara manusia di dunia ini hanyalah terpisahkan oleh 6 tingkat

Teori ini ditemukan oleh Stanley Milgram. Milgram membuat penelitian dengan menyebarkan 296 paket surat secara acak kepada 296 responden yang tinggal di Nebraska dan meminta responden untuk mengirim paket surat tersebut kepada seseorang yang berlamat di Boston dengan cara meneruskan paket tersebut kepada rekan/saudara yang menurut mereka mengenal si penerima paket tersebut. Pada paket surat tersebut tertulis sebuah pesan “Jika anda tidak mengenal langsung si penerima paket secara personal, jangan mencoba untuk langsung menghubunginya. Anda diminta hanya untuk meneruskan kepada teman/saudara yang menurut anda mengenal si penerima paket”.

Pada akhirnya, dari 296 surat yang disebarkan, ada 64 surat yang benar-benar sampai kepada si penerima paket. Rata-rata derajat tingkat pemisah hubungan antara si pengirim paket dan penerima paket adalah antara 5,5 sampai 6 orang, sehingga konsep Milgram tersebut dinamakan “Six Degree of Separation.

Lantas akupun menilik satu persatu sahabat digitalku, apakah teori ini bisa ku buktikan ? Ku buka daftar nama teman di facebook, sebagian besar adalah teman yang terkait dengan kehidupan nyataku, hanya ada beberapa yang terlanjur terkonfirmasi sebagai teman tanpa aku mengenalnya terlebih dahulu, ketika dunia maya selama tak mengganggu maka biarkan saja dia berada dilist temanku. 

Berikut adalah sahabat digitalku yang sampai kini belum pernah bertatap muka tapi serasa sudah saling mengenal satu sama lain . Sebut saja akun facebook Afthoni Ikhsan sebuah nama dan sosok yang tak kukenal sama sekali, sering memberi komen disetiap status atau foto-fotoku, demikian halnya akupun membalas akrab. Sahabat digitalku berikutnya adalah " Wahyu Tri" ternyata mbakyu satu ini adalah teman seperkuliahan dengan mas Afthon entah karena aku akrab dengan mas Afthon akhirnya akupun berteman dengan Wahyu, sama dengan mas Afthon mbak Wahyu selalu hadir menambah canda disetiap statusku, akupun mengenal suami dan anaknya yang pintar melukis hanya melalui dunia maya tapi balasan berupa tante membuat aku seolah adalah tante anaknya. Berikutnya adalah Eastxander seorang pria vokalis band di Jakarta, menjadi sahabat digital hanya karena alasan mimpi, aku bermimpi bertemu dengan pria bernama xander dan bertemulah didunia digital ini (dan untuk pertama kalinya pada tanggal 15 Oktober 2011aku bertatap muka pas dihari pernikahannya). Awalnya heran karena dibeberapa kesempatan setiap mas afthon komen, mbakyu muncul dan Eastxanderpun akan menyahut komentar mas afthon, ternyata mas Afthon dan eastxander sudah berteman lama didunia maya lainnya. Dan satu lagi sahabat digitalku adalah Agus kribo sampai sekarang belum pernah bertemu seorang guru di Al-Azhar, meskipun hanya didunia digital tapi Agus sudah pernah merasakan durian pontianak yang kukirimkan, Eastxander sudah mencicip mpek-mpek dari Palembang , luar biasa persahabatan yang tak mengenal rupa ini begitu akrabnya. Sampai disini aku belum menemukan keterkaitan teori Six Degree sampai akhirnya seorang teman menelponku "Endang Lestari" teman kos sewaktu kuliah dulu "Hallo li, apa kabar katanya". Alhamdulillah baik, ada apa nih tiba-tiba nelpon ? " Gini li aku sedang diruangan kerja atasan ku, seorang pria dan diruangannya ini ada suara Rhoma Irama, dimeja kerjanya kulihat laptop yang sedang menyala ada poto mu sedang berlibur" akupun sudah mulai menebak bahwa pria yang dimaksud adalah Mas Afthon hanya dia yang aku kenal begitu maniaknya dengan Rhoma Irama, dan betapa kagetnya aku ketika mengetahui bahwa mas Afthon adalah atasan temanku, begitu aku online diwall sudah ada sapaan dari mas afthon "Uli ada salam dari Endang Lestari" Belum habis kaget ku tiba-tiba ada tanya dari teman kuliahku "Mima" apa aku sudah pernah bertemu Agus ? Aku bilang belum ..ehh ternyata Agus adalah teman sepengajian Mima di Al-Azhar, disusul pula dengan pengakuan Dessy yang sudah mengenal Eastxander di event Ramadhan tahun sebelumnya. 

Ahh sempitnya dunia ini, sepertinya benar adanya Teori Six Degree itu bahawa diantara aku dan kamu memang terkait dengan 6 tingkatan, makanya tak aneh ketika aku merasa dekat dengan sahabat digitalku karena dibalik itu mereka sudah terpaut dengan sebagian dunia nyataku. Alhamdulillah sampai saat ini silaturahim terjalin dengan baik ,melalui media sosial, tak saling tatap wajah, tak saling berjabat tapi bisa saling mengisi.  Ini cerita ku tentang sahabat digital , bagaimana cerita mu ????

Note : Tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas bagian "freez Kompasiana"

Karena tulisan ini ada mention beberapa teman bahwa namanya dan aku tentunya masuk koran hihihihi yipiiiii...

2 comments:

  1. Teorinya perlu dipraktekkan
    Seru juga persahabatan digitalnya, mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba deh mbak, biasanya sih nemu hehehe

      Delete

Komentar mu Informasi untuk Kita