Karena Aku Tak Butuh ART - Ulihape.com

Karena Aku Tak Butuh ART

Bicara tentang Asisten Rumah Tangga (ART) pasti banyak kisah, siapa yang tak bahagia ketika ada orang lain membantu meringankan tugas kita. Aku masih ingat betul sewaktu aku kecil kami banyak sekali ART bisa 3 - 4 orang, ada yang untuk memasak, membantu mamak mencuci setrika, membantu mamak belanja dan membantu menjaga adik bungsuku. Namun mamak selalu mengajarkan kepadaku bahwa ART (dahulu disebut Pembantu) tugasnya adalah membantu bukan mengambil alih semua kewajiban kita, thats why meski punya 4 ART maka mamak masih memberikan tugas kepada aku anak perempuannya, dan thanks to mamak yang sudah mengajarkan banyak hal termasuk urusan ART.



Aku baru merasakan betapa capeknya mencuci pakaian, menyetrika pakaian ketika aku kuliah, sambil menangis aku gosok baju kotorku, bukan menangisi nasib tapi aku jadi teringat betapa dulu aku sesukanya berganti baju tanpa memikirkan si mbak tukang cuci dan sejak jadi anak kuliahan maka aku belajar mengirit menggunakan pakaian, kalau baru dipakai sebentar maka jangan langsung dicuci. Urusan memasakpun aku baru bisa selepas menikah, dulu mamak gak pernah izinkan aku ke dapur, alasannya setiap perempuan itu bisa masak maka tunggu saja waktunya ucap mamak.


Lalu dalam perjalanannya banyak hal yang aku dapatkan, bahwa memiliki ART adalah sebuah pengorbanan perasaan, tak ada orang yang mau rugi maka ART pun begitu, lu harus bisa menjaga ART dengan memanjakannya, mengalah demi ada yang membantu, belum lagi kalo ART nya hobi macem-macem maka lu akan bersabar demi sebuah alasan ada yang meringankan pekerjaan. Pengorbanan lu membuat lu lupa bahwa lu sebenarnya bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, sehingga tak jarang majikan menderita hanya karena takut tak memiliki ART.

ART di rumah kami rata-rata betah, hanya saja kami berpindah-pindah karena pekerjaan papa, ada beberapa yang sempat ikut bersama kepindahan kami, Mamak selalu memberikan sebuah pendidikan kepada ART kami, misal ada yang diberikan kursus menjahit, ada yang disekolahkan pokoknya banyak cara yang dilakukan mamak supaya ART betah di rumah, terkadang mamak menimbulkan rasa cemburu di hati kami anak-anaknya, ada masanya ART dibelikan sesuatu tapi kami tidak. Pada akhirnya kami bertemu juga dengan seorang ART yang jahat, dia bertugas menjaga si bungsu, menjaga disini adalah mengantar dan menjemput si bungsu ke sekolah, oneday si mbak tukang masak sedang membuat snack bubur kacang ijo, sibungsu merengek meminta ke mbak nya, siang itu aku dengar pekikan adikku, aku berlari menuju dapur dan aku lihat badan adikku penuh tumpahan kacang ijo yang mendidih. Segera aku seret adikku ke kamar mandi aku siram dia, dan mamak langsung memberhentikan ART. Trauma membuat mamak mengurangi jumlah ART sampai akhirnya kami tak memiliki ART seorangpun.

Yang terjadi setelah kami tak memiliki ART adalah kami bahagia, kami semakin sering berkomunikasi dengan mamak, papapun jadi lebih leluasa bila sedang di rumah, papa bebas mengenakan singlet dikala malas menggunakan baju kaos, papa leluasa menggunakan sarung di pagi hari, aku jadi hobi membersihkan lemari keramik mamak, mamakpun semakin bervariasi dalam menyajikan masakan. Ehmm kenapa baru sekarang aku merasakan kebahagiaan ini ? Diusiaku yang sudah 19 tahun aku membuat kesimpulan "bisa jadi ART meringanku tugasmu, akan tetapi keberadaan ART membuat batas kebahagiaanmu". Dan sampai sekarang di rumah mamak tak ada ART, pekerjaan rumah tangga mereka lakukan berdua, mamak mencuci pakaian, papa menyetrika, mamak memasak papa membantu membereskan meja makan, kerja sama itu justru menimbulkan rasa sayang terhadap pasangan.

Akupun menikah dan memilih tidak akan menggunakan ART, bukan karena sok idealis karena memang aku sudah kenyang dengan segala jenis ART, mereka hanya bertahan bila kita memperlakukan mereka seperti inginnya, dan aku tak mau seperti mamak yang harus memberitahu kami begini begitu hanya supaya ART betah di rumah, aku tak mau seperti mamak yang melarang papa menggunakan ini itu hanya karena ada ART di rumah dan aku tak mau ambil resiko ada ART menyakiti anak-anakku kelak, akupun tak mau bete seperti mamak melihat ART tak bekerja sesuai ekspektasinya, bahkan aku tak mau memarahi orang lain karena hanya tak seperti isi kepalaku. Toh pada akhirnya aku melihat kebahagiaan di keluarga kami dulu sangat terasa ketika tak ada ART , karena itu aku tak butuh ART !

Saat ini sudah banyak jasa yang hadir untuk memudahkan urusan rumah tangga, misal malas beberes bisa panggil jasa cleaning service online, bahkan sampai urusan mencucikan piringpun ada, kalau malas setrika jangan lupa ada jasa setrika tok, malas masak juga ada jasa titip beli makanan online, ah rasanya memang tak butuh ART kok, jangan sampai lupa potensi diri mu. Aku tetap butuh bantuan orang lain, ya untuk urusan menjaga anak aku memilih daycare, anak-anak berada didaycare selama kami bekerja , urusannya lebih profesional karena berurusan dengan lembaga bukan individu, selama anak-anak didaycare maka per 2 jam aku melakukan kontak, menanyakan kabar anak-anak, melakukan video call dan itu tak jadi masalah karena kami menggunakan XL so no budget khusus untuk urusan kuota karena XL banyak gratisnya.

Maksimalkan kemampuan diri, ajak suami bahkan anak-anak untuk mengurus rumah, percaya deh tanpa ART hidup akan lebih indah ! 


When Sharing Is Caring, Aku Senang Bercerita Untuk Membuatmu Tak Merasa Sendirian Nikmati Cerita Tentang Hidup, Info Produk, Kesehatan Dan Cinta.