Ketika Mencari Rupiah Lewat Tulisan di Kompasiana - Ulihape.com

Ketika Mencari Rupiah Lewat Tulisan di Kompasiana

Bukan pengalaman buruk, namun sebuah pengalaman yang semakin membuat aku yakin untuk menulis di blog personal saja.

Setahun belakangan banyak bermunculan tawaran via email untuk menulis di sebuah platform lalu artikel kita akan dihargai sekian rupiah per view, wow ! aku tergoda ! Setidaknya penawaran yang masuk ada dari Kaskus Creator, Shopback, UC news dan yang terakhir adalah C2Live ? Semuanya menawarkan keuntungan untuk mendulang rupiah. Eh kecuali C2live agak berbeda sih namun intinya mengajak kerja sama. Respon ku ? Enggak dulu yah, terima kasih untuk kesempatannya. Selain memang enggak fokus ngeblog, aku masih seorang karyawan dan kegiatan rumah tangga juga lumayan menyita waktu. And i know who i am, intinya aku enggak bisa ikuti karena keterbatasan ku saja. Lalu alasan lainnya di semua platform itu, kita hanya sebagai penulis dan tidak memiliki akun disana, yah semuanya si empunya rumah yang atur kan, pokoknya tugas mu hanya masukkan tulisan di draft dan persetujuan tayang nanti diinfokan by email, biasanya sih 2x24 jam lah baru ada email tayang atau tidak.

Pixabay

Lalu aku mau bahas apa ? Jadi begini ceritanya, dari sekian banyak tawaran ternyata platform kesayanganku Kompasiana.com enggak mau ketinggalan, karena memang rupiah itu iming-iming yang mampu menggeser kesetiaan. Banyak kompasianer mendadak merapat ke UC News atau seaword.com karena merasa tulisan itu selain banyak di baca orang bisa pula mendatangkan rupiah. Memang kalau dipikir-pikir ya ngapain ngeramaian konten dia, apalah arti kesetiaan tanpa ada perhatian begitu analogi nya. Aku pribadi akhirnya berpikir demikian, ngapain nambah konten di akun Kompasiana ku ? Better aku kejar traffic di blog personal ku yang lumayan juga mendapat tawaran post paid.


Kompasiana Memberi Harapan

Konpasiana.com mungkin melihat situasi ini, apalagi saat itu pelopo nya Kang Pepih Nugraha juga memilih pensiun, alhasil dibuatlah gebrakan untuk memanggil kembali para penulis, Kompasiana berani bersaing untuk mengundang penulis lainnya dengan memberikan 'iming-iming' rupiah juga. Tak terkecuali aku yang semula sudah malas menulis disana akhirnya merasa tertarik untuk kembali. Ada Rewards bagi para penulis, kalian bisa mendapatkan rupiah dari banyak kategori, setiap bulan akan ada reward untuk penulis terbanyak, tukang komentar, konten terbaik, konten terbanyak view. Kalau kalian mau ini kan lumayan banget karena diberikan setiap bulan. Bagiku ini sudah merupakan penghargaan, meski aku tak mau ambil bagian karena menurutku menyita waktu dan aku masih hitung-hitungan soal ngasih konten ke Kompasiana.

Setelahnya Kompasiana kembali membawa kabar baik melalui Kompasiana Content Affiliation yang sering kami sebut dengan KCA, menggembirakan bahwa kompasianer yang centang hijau dan biru diberi kesempatan mengikuti KCA dan per view akan dibayar 300 rupiah. Ehm, aku punya akun, centang biru pula, dibayar pula apa alasan ku untuk tak meraih kesempatan baik ini ? Semula masih meragu tapi tertepis oleh keyakinan bahwa ini berbeda dengan platform lainnya. KCA ini adalah campaign dari klien-klien Kompasiana, artinya kompasiana hanya mengelola dan urusan pembayaran aku pikir akan lancar toh yang bayar uang klien ini ? Begitu aku berpikir.

Akhirnya akupun mengikuti KCA pertama ku, belum selesai masa campaign nya ada lagi penawaran KCA berikutnya, aku merasa senang karena bukan sombong untuk menghasilkan page view aku mampu, asal aku mau. Namun dari awal aku memang ragu, ragu saja sama track record pembayaran dari Kompasiana, karenanya untuk semua KCA aku hanya targetkan pembaca maksimal 3000 view artinya sekitar 900 ribuan. Nah kalo setiap bulan aku bisa mendapat 900 ribu per KCA maka ini bisa membuat aku nekad untuk resign begitu awal mulanya semangatku menyambut KCA.

Kecewa dengan Pembayaran KCA

Alhasil aku harus mengakui kalau aku sangat kecewa, apa yang aku khawatirkan terjadi sejak September sampai November ada 4 KCA yang sudah aku ikuti namun sampai akhir tahun tak kunjung tiba kejelasan pembayaran. Harapan yang tadi sempat muncul mendadak menjauh pergi, aku benci!

Meski Akhirnya di tanggal 21 Februari kemarin semua KCA ku dibayar, namun tetap saja meninggalkan kekecewaan. Bahkan tawaran KCA ke lima aku tolak dengan alasan ragu kalo KCA ini beneran akan dibayar. Saat ini Kompasiana kembali membuat reward bagi member nya, namun aku enggak berharap banyak sih so just let see lah.

Kenapa artikel ini aku tulis ? Karena aku merasa bertanggung jawab, jujur saja ada beberapa orang yang mengikuti KCA ini karena promosi ku, dan ketika bayaran belum ada maka aku adalah orang yang pertama mereka tanyai dan pada akhirnya setelah dilakukan pembayaran maka aku memutuskan untuk membuat artikel ini. Kalian silahkan ikuti KCA akan tetapi harus benar-benar memahami nya, jangan seperti ku yang berharap dan lalu kecewa.

Pendapatan ku dari KCA


6 Hal Yang harus kamu ketahui tentang KCA

  1. Punya Akun Kompasiana centang hijau dan biru
  2. Cek penawaran di tab menu Content Affiliation
  3. Menulis lah lewat sub menu tersebut (bukan seperti menulis biasa)
  4. Tunggu approval Admin, bila sudah status approved, itu artinya kalian berhak mengikuti KCA
  5. KCA disetujui belum tentu mendapatkan rupiah,  namun catat ya approved belum tentu bisa menghasilkan rupiah. Ada satu artikel ku yang view nya lumayan tapi hasilnya zonk. Jadi ceritanya KCA ini bisa menghasilkan rupiah selama kuotanya masih tersedia, misal nih hari pertama campaign kalian ikuti KCA, status approved. Kuota KCA tersebut 10 juta rupiah, lalu ternyata ada teman mu yang sudah duluan ikut dan view dia di jam yang sama sudah mencapai 33.333., maka artinya semua campaign itu untuk dia, sementara meski artikel mu sudah dibaca 3 ribu tetap saja enggak kebagian.
  6. Sabar menunggu transferan, Pembayaran KCA, sampai hari ini aku enggak jelas. Kalau platform yang lain tadi mereka menyebutkan time pembayarannya, nah untuk KCA enggak jelas. Pernah aku hubungi beberapa Admin dan mereka jawabnya bingung, kalau Admin saja bingung apalagi aku yang cuman user, seriously ini buat apatis banget haha
Kalau aku jujur enggak kuat di poin 6 dan akhirnya aku memutuskan bye smaa KCA, karena aku menulis memang mengharapkan rupiah, kalau disuruh nabung ya bayar aja dulu sih baru ditabung hehe. Kadang sesama kompasianers saling chat, isian nanyain sudah transfer belum ? Ada yang angkanya cuman 30 ribu rasanya menunggu sampai 6 bulan itu apa ya ? Bahkan ada yang menunggu karena butuh, aku sendiri begitu sampai bela-belain ngubungi orang nunjuki penghasilan KCA "gue ada duit segini sebenarnya, tambah punya suami gue" tapi uangnya belum tahu kapan dibayar, pinjamin dulu bisa ? Begitu kemarin dibayar itu uang udah langsung mutasi rekening aja deh hahah, bahagianya itu enggak dapat. Seharusnya reward itu hal yang membuat orang hepi, bukan bikin bete. Rasa-rasanya Kompasiana harus buka kamus untuk tahu makna dan tujuan reward.

Aku lalu teringat karena setiap bulan harus memberi reward ke teman-teman di site, bagaimana supaya bisa dibayarkan secepat mungkin untuk memberikan semangat kepada mereka supaya produksi bisa terus digenjot. Kalau bayar reward enggak sanggup lantas menuntut output maksimal ? Nenek ku pun pasti ketawa.

Pada akhirnya aku tetap support dengan Kompasiana, entahlah benci tapi rindu, platform ini tetap ada di hatiku namun untuk mencari rupiah lewat tulisan di kompasiana rasanya enggak dulu, kabari saja kalau pembayarannya sudah lancar ya. Tapi untuk kegiatan lainnya aku suka konsep nya, dan entah kenapa kami kompasianers bisa akrab-akrab dalam berteman. Meski begitu aku benci kalau dibayar lambat hahaha walaupun itu sebatas hadiah lomba hehe.





When Sharing Is Caring, Aku Senang Bercerita Untuk Membuatmu Tak Merasa Sendirian Nikmati Cerita Tentang Hidup, Info Produk, Kesehatan Dan Cinta.