Hati-Hati Berkomentar, Karena Bisa Masuk Penjara! - Ulihape.com

Hati-Hati Berkomentar, Karena Bisa Masuk Penjara!

Sebenarnya bukan hal baru, saya yakin semua orang tua kita selalu mengajarkan bagaimana cara bertutur yang baik dan benar. Kandapun sejak dini sudah aku nasehati tidak boleh mengejek teman bermainnya. Namun dari cerita anak TK ini bahwa dia dan kawan-kawannya kerap saling ejek. Misal aku tuh diejeknya 'Kanda Sari Roti" mami, ungkapnya  sambil tertawa. Lalu aku tanya bagaiman dengan temannya ? Dia pun bercerita ada yang sampai menangis 'kasihan Sam mami, namanya kan Samudra tapi diejeknya Sam-pah". See? Ternyata semua bermula dari kecil ya, jadi yuk dekat dengan anak supaya kita tahu merrka mengucapkan kalimat yang baik.

Sumber IG VoA


Mamak ku dulu selalu bilang 'lidah tak bertulang, dan kata-kata menusuk lebih tajam dari mata pisau' dan pengalaman mamak saat marah kepada tetangganya karena anak tetangga membuat abangku menangis. Masalah mainan sebenarnya, dimana mainan abangku di ambil anak tetangga lalu mamak berusaha meminta kembali, yang terjadi si anak menangis kencang dan orang tuanya datang. Si tetangga ternyata membela anaknya, lalu keluarlah ucapan mamak 'eh situkan cuman PNS, mana bisa beli mainan begitu'. Selesai sampai disana ? Nope! Beberapa jam kemudian pak polisi datang ke rumah dan ingin menangkap mamak, pasal yang dikenakan adalah menghina PNS. What ! Sejak saat itu mamak selalu mengingatkan kami bahwa di negera hukum semuanya diatur undang-undang, karenanya berhati-hati daoam berucap. Kejadian itu sekitar tahun 1979, artinya bila saat ini ada UU ITE untuk memantau sosial media maka bukan hal baru. Sejatinya UU untuk hal yang tak menyenangkan sudah ada sejak dulu, hanya saja caranya di perbaiki mengikuti perkembangan zaman.

Komentar Tak Menyenangkan Berujung Penjara

Beberapa hari lalu ada seorang public figure sebut saja namanya Anjasmara yang bersiap menuntut seorang netizen karena komentar yang menjelekkan istrinya. Hidungnya jelek banget sih ! Begitu kiranya yang disampaikan netizen tersebut, meski fakta tapi hal tersebut disampaikan dengan tujuan menghina, yah jelas sih kalau enggak menghina tentu kita tak akan berkomentar demikian kepada siapapun. Seperti suami saya, sudah jelas istrinya gendut paling ucapannya 'mami enggak gemuk kok cuman cukup berisi', begitu kira-kira kalau kita tak ingin menyakiti seseorang. Sebisa mungkin kita mencari padanan kata yang sopan.

Reaksi Anjasmara menyikapi hal tersebut sesuai UU ITE yang baru yaitu body shamming, dimana menjelekkan keadaa fisik seseorang bisa dikenakan penjara selama 4 tahun dengan denda maksimal 450 juta. Namun Anjas tak buru-buru membuat laporan, dia menuntut agar netizen tersebut segera membuat permintaan maaf di sosial media dan media cetak satu halaman full dan kalian tahukan gengs itu enggak murah.

Jadi please ya berhati-hati dengan komentar kita, bila yang di komentari tak merasa senang maka bersiaplah menghadapi tuntutan. 

Selain body shamming, komentar bernada SARA juga bisa dijerat UU ITE, mengancam dlaam berkomentar pun sama. Dan pikir ulang setiap kalian mau ngeshare berita apapun, pastikan beritanya bukan HOAX supaya apa yang kita share memang hal yang bisa kita pertangungjawabkan. Karena kita enggak bisa mengelak 'yah gue kan cuman share dari orang juga'. Proses hukum berjalan terhadap laporan jadi misal yang dilaporkan adalah statusmu maka hukum enggak akan cari tahu itu hasil dari mana, makanya pikir ulang sebelum jemari kita mengklik.

Tahun 2019 harus lebih bijak, apalagi mendekati pilihan presiden yang makin ramai bikin emosi hehe, yuk biasakan bersikap kalem biar selamat di dunia sosial media, oh iya bahkan kemarin di sebuah WAG juga ada yang sharing ketikq kita memscreenshoot percakapan WA juga sebaiknya diminta izinkan karena UU ITE yang baru juga mengaturnya demikian, intinya jangan buat orang tak senang ya prens.




When Sharing Is Caring, Aku Senang Bercerita Untuk Membuatmu Tak Merasa Sendirian Nikmati Cerita Tentang Hidup, Info Produk, Kesehatan Dan Cinta.