-->

Kritis Dan Provokasi ?

Perlukah bersikap kritis? Jangan-jangan bukan kritis tapi provokasi?

Kritis dan provokasi adalah hal yang baik namun dalam berjalan bisa terlihat negatif justru bukan dari sikap awal kritis dan provokasi melainkan adanya gerakan barisan sakit hati yang membelokkan makna sebenarnya.

Kritis sudah pasti didasari kepada beberapa hal seperti gak mudah percaya, rasa ingin tahu dan selalu mencari kesalahan. Sikap kritis ini selalu ada dalam setiap orang namun gak banyak yang mengasahnya dengan tajam karena memilih bermain aman. Orang yang kritis cenderung dianggap provokatif dan hal ini membuat banyak orang lain mendiamkan hal yang gak sewajarnya.


Aku pribadi adalah orang yang kritis, cenderung spontan dalam merespon sesuatu dan tujuannya bukan hanya untuk diri sendiri melainkan untuk lingkup orang banyak, namun seringnya dicap karena memintingkan diri sendiri.

Aku bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit, ada banyak intrik dalam lingkup pekerjaan. Aku cukup dekat dengan semua karyawan sehingga aku mengetahui banyak hal sepele yang tak diketahui atasan namun bisa memiliki dampak besar terhadap keberlangsungan perusahaan. Kemampuan aku menyikapi informasi dengan kritis ini menjadi nilai lebih ku sehingga sampai saat ini aku bekerja bisa dibilang memiliki posisi aman dan nyaman karena pemikiran kritis ini.

Kritis itu gak mudah percaya, aku banyak mendapat informasi namun aku akan mencerna dan mencari tahu benar kah informasi yang aku terima? Setelahnya rasa ingin tahu ku akan mengumpulkan lebih banyak informasi dan terakhir aku akan bertanya "masak sih?" seolah tak percaya, seolah mencari-cari celah dan bagini ini memang kurang menyenangkan dari sikap kritis karena bisa menimbulkan respon tak senang dari orang lain.

Setiap ada masalah yang harus didiskusikan, teman-teman akan bilang "Kak uli aja deh yang ngomong, kakak kan dikenal kritis" ini kalau menyangkut hajat orang banyak kesan kritisku ini sangat menolong. Namun dilain waktu ketika aku begitu care-nya akan kesehatan owner yang sudah lansia disaat awal Covid-19 maka aku bersuara tentang WFH nyatanya sikap kritis ini membuat beberapa pihak menilai bahwa akulah yang ingin manjah-manjah di rumah haha.

Sikap kritis ini gak selalu menguntungkan namun aku tak menyesal memilikinya karena bisa membantu banyak orang. Ketika beberapa hari lalu efek hujan deras yang membuat beberapa kawasan banjir dan paginya menimbulkan efek becek dan macet. Melewati jalanan Daan Mogot yang gak bergerak akhirnya aku menyamperi jalur busway yang ditutup dan dikawal petugas TransJ dan Pak Polisi. Aku bilang "pak ini macet, gak gerak efek jalanan becek. Jalur ini kosong melompong, bisa izinkan untuk dilintasi? Saya sudah sangat terlambat". Entah karena bingung disamperin mak-mak akhirnya mereka buka dan buz...semua motor masuk dan rentetan klakson motor say thank you ke aku. 

Dilain waktu di perkebunan ada operator alat berat mendatangiku, mereka menginginkan lembur menceritakan betapa beratnya pekerjaan mereka. Yang aku lakukan adalah menegcek laporan alat berat, melihat jam kerja, melihat perhitungan premi. Kemudian aku menemu asisten (padahal aku bisa dengan leluasa langsung ke atasan) tapi asas kritis adalah kebenaran data maka semakin banyak data yang kita dapat maka akan makin mudah menyampaikan maksud kita. Lalu setelah data terkumpul aku menghadap atasan, memberikan mereka dua opsi menaikkan premi sekian atau menaikkan gaji khusus operator alat berat. Akhirnya dari laporanku dilakukan analisa dan terjadilah kenaikan upah dan sejak itu kalau ada yang ingin naik gaji curhatlah ke aku. Dan gak semudah itu ferguso untuk semua omongan harus aku speak up kan.

Sejak adanya  pilkada yang selalu ribut maka antara kritis dan provokasi ini jadi samar. Banyak provokator bersembunyi dibalik kata "kami hanya mengkritisi". Percayalah pemerintah akan suka dikritisi, tapi kalau kritis lebih mengarah ke provokasi maka sebaiknya jangan. 

Lantas bagaimana supaya kritis tak dinilai sebagai sebuah provokasi?

  1. Ketahui Akar Masalahnya, kebanyakan orang kritis itu hanya menyambung tai hanyut (kata orang medan) dia gak mau mencari tahu apa sih masalah sebenarnya? Beneran salah gak? Yang sering terjadi adalah orang-orang justru melapor kekita karena mereka tahu kita membenci hal tersebut dan akhirnya kita terjebak, gak mau mencari tahu lalu berkoar salah kemudian minta maaf saja? Tapi kalau kalian tahu akar permasalahannya maka kalian gak akan menerima begitu saja, kalian akan mencari banyak informasi.
  2. Jangan Mudah Percaya, rasa ini akan membawa kita untuk mencari tahu. Apakah benar hal yang kita dengar? Mencari tahu kebenaran juga akan membawa kita kepada fakta-fakta lainnya sehingga ketika kita akan speak up inshaallah kita sudah memiliki data yang lengkap.
  3. Selalu Mencari Kesalahan, hal yang kurang baik dari sikap kritis adalah kebiasaan mencari kesalahan namun kalau kita kritis terhadap hal benar maka sikap ini membawa kita kepada hal-hal baik, sebaliknya bisa menjerumuskan kita semakin buta terhadap hal yang kita perjuangkan.
  4. Jangan egois, harus bisa menyampingkan urusan pribadi karena kebanyakan orang-orang kritis saat ini, gak bisa kritis karena egois. Karena ada kepentingan pribadi akhirnya maju namun lupa tujuannya untuk banyak orang dan hasil akhir biasanya mengecewakan karena terlalu berambisi dan dinilai sebagai provokasi.
  5. Berikan Solusi, banyak sikap kritis yang zonk karena tak diimbangi dengan solusi. Biasanya aku akan bersuara ketika aku sudah memiliki solusi. Sama seperti contoh yang aku sampaikan ketika maju ke atasan akus udah membawa ide-ide solusi sehingga kritis kita itu memang serius bukan sekedar melemparkan masalah dan berujung tak jelas. Ketika kalian mempunyai solusi maka kalian tahu apa yang sedang kalian perjuangkan.
Well, ini sedikit tulisan digitalku tentang sikap kritis, kalau ada ide lain silahkan ditambahkan di kolom komentar ya gengs.

When Sharing Is Caring, Aku Senang Bercerita Untuk Membuatmu Tak Merasa Sendirian Nikmati Cerita Tentang Hidup, Info Produk, Kesehatan Dan Cinta.

No comments: