4 Alasan Aku Tak Pernah Merasa Insecure

4 Alasan Aku Tak Pernah Merasa Insecure

Insecure adalah suatu kepribadian yang berupa rasa tidak percaya diri sehingga seseorang akan merasa cemas, gelisah, dan takut dalam menghadapi atau melakukan sesuatu (Sumber https://www.gramedia.com/best-seller/insecure/)

Pernah merasa insecure? siapa? Aku? Oh alhamdulillah aku belum pernah merasa insecure. Kalau dilihat dari terjemahan di atas bahwa Insecure adalah rasa tidak percaya diri dan bikin down saat orang lain bisa. Jujurly ya aku belum pernah berada di fase insecure.

Penyebab Insecure
Never Insecure - Ulihape

Kok bisa? Karena aku adalah orang yang selalu yakin bahwa apa yang ada padaku adalah hal terbaik dari Allah. Tapi tidak semua orang kan punya keyakinan sepertiku, karena itu aku nggak bisa paham ketika orang merasa insecure terhadap orang lain. Kebiasaan berpikir positif juga adalah bagian dari diriku yang membuat aku selalu merasa bahwa aku baik-baik saja, bahwa aku tak harus merasa rendah diri dikala aku tak bisa mengungguli orang lain.

Mungkin teman-teman yang kerap mampir ke blogku atau membaca curhat ku di sosial media bisa melihat aku adalah orang yang santui, nggak baperan. Aku juga kerap membagi cerita bagaimana aku bisa menjalani hidup dengan enjoy meski aku bukan siapa-siapa di mata orang lain. 

Percaya Takdir Baik

Hidup sebagai umat beragama membuat aku selalu yakin bahwa apa yang terjadi atas diriku adalah kehendak Allah, karena itu aku percaya apapun kondisi yang aku dapatkan itu adalah sebaiknya dari sang maha pencipta, hal ini membuat aku menerima takdir dengan perasaan positif. Misalnya ketika teman-temanku (circle inti) semua mendapatkan jodoh suami yang gagah dan memiliki jabatan maka aku dengan bangga juga menggandeng suamiku, memperkenalkan suami dengan mantan tanpa harus aku merasa insecure. Ketika aku bisa dengan tenang bekerja karena suami bisa membantu aku menjemput anak yangs edang sakit, disaat bersamaan temanku bersedih hati karena kesibukan suaminya maka dia ahrus berjuang sendiri ketika anak sakit. Saat itu rasa syukur semakin membuncah "Alhamdulillah dia jodohku, mungkin jabatannya tak sehebat suami temanku tapi dia mampu memberikan ketenangan lain untukku". 

Menciptakan Peran 

Mungkin aku memilih tak memililik ART karena keterbatasan ekonomi, tapi lain hal ini bukan pekara tak sanggung membayar ART, toh adikku atau orang tuaku selalu siap support kalau memang aku membutuhkannya. Namun aku berpikir bahwa aku harus menciptakan peran untuk keluargaku. Aku harus memasak sendiri sebagai wujud ketergantungan suami dan anak-anak terhadapku. Ketika mereka menanyakan "mami menu sarapan kita apa?" aku merasa menjadi sosok penting di tengah keluargaku, aku merasa dibutuhkan meski itu menguras tenaga. Rasa bahagia karena memiliki peran tentu membuat aku tak peduli dengan keadaan orang lain, dalam artian aku selalu merasa nyaman dengan apa yanga da pada ku. Sebaliknya di kantor meski aku memiliki atasan yang tak senang padaku tetap aku tak pernah merasa insecure, karena aku menciptakan peran di kantor. Keberadaanku bukan hanya diperlukan oleh atasanku, aku juga dibutuhkan yang lain jadi tak ada masalah karena aku punya peran penting bagi kolega lainnya.

Berpikir Positif

Mungkin ini hampir mirip dengan memaknai takadir baik dari Allah, makanya aku terbiasa membawa pikiran ke arah positif. Misal ketika aku memiliki atasan yang tak menyenangkan tadi, aku berpikir bahwa dengan begitu aku jadi termotivasi untuk terus memperbaiki diri. Atau ketika aku harus mengerjakan semuanya sendirian, aku bisa punya semangat bahwa semua usaha ini adalah ibadah bukan semata kewajiban sebagai seorang Ibu/Istri melainkan ada imbalan nyata dari sang pencipta kelak di hari akhir, inshaallah.

Senang Melihat Orang Lain Bahagia

Kebiasaan ini selalu mampu membuat aku bisa memiliki perasaan senang meski aku tak mengalaminya. Ketika ada teman yang menang lomba blog aku bisa ikutan senang meski aku kalah darinya. Dan sejak dulu aku juga nggak pernah iri dengan adik beradik, terkadang adikku mendapat hadiah dari Mamak aku ikutan bahagia dengan begitu aku juga bisa menikmati apa yang didapat adikku. Jadi nggak ada alasan untuk iri, sikap iri hanya membuat kita menjauh dari kenikmatan yang bisa kita rasakan. Sejak kecil aku berkesimpulan ketika bisa berbahagia untuk orang lain maka kebahagiaan itu akan ahdir pada diri kita juga.

Meski aku tak pernah merasa insecure bukan berarti aku menganggap mereka yang insecure sebuah keanehan. Insecure itu wajar saja namun nggak boleh keterusan. Berusahalah untuk bisa menerima kemampuan diri, menerima takdir dan selalu yakin bahwa tak ada kerugian yang dirasa bila kita bisa berbahagia karena pencapaian orang lain, insha'Allah.




2 Komentar

  1. Hatiku terasa hangat sepanjang membaca. Seolah ada pesan semangat dan mengingatkan kembali untuk bersyukur dengan melihat sisi yang lain dari dalam diri. Senang banget bisa mampir ke mari sebelum tidur. Jadi bacaan yang menyenangkan.

    BalasHapus

Komen ya biar aku tahu kamu mampir