Assalamu'alaikum, membahas Gen Z emang nggak ada habisnya ya namun aku bisa bilang diriku sih baik-baik saja bekerja dengan gen Z.
Kadang emang kaget sih ketika 'bocah' yang selisih 20 tahun dengan ku bahkan mungkin aku seumuran dengan Ibunya tetiba datang kepadaku dan bilang ' “Mbak, ini datanya sudah saya perbaiki. Yang kemarin salah ada di bagian ini.”
Kalimat itu datang begitu saja, tanpa pengantar panjang, tanpa basa-basi pembuka.
![]() |
| Kerja Bareng Gen Z? Why Not! |
Dulu, mungkin aku akan menunggu kalimat seperti, “Bu, maaf mengganggu sebentar…” atau “Bu, saya mau menyampaikan sedikit soal laporan kemarin.”
Namun sekarang, percakapan di tempat kerja sering langsung menuju inti persoalan.
Begitulah salah satu warna ketika bekerja bersama Gen Z.
Generasi ini membawa cara berkomunikasi yang berbeda. Cepat, lugas, dan sering kali sangat langsung. Bagi sebagian orang, terutama yang terbiasa dengan komunikasi penuh pengantar seperti generasi Baby Boomers atau Gen X, gaya seperti ini kadang terasa kurang sopan.
Aku juga sempat berpikir begitu.
Namun setelah cukup lama bekerja bersama mereka, aku mulai memahami bahwa yang terlihat seperti ketidaksopanan itu sebenarnya lebih sering hanya perbedaan cara berkomunikasi.
Mereka bukan tidak menghargai orang lain. Mereka hanya terbiasa langsung ke inti masalah. Yah kalau mau berpikir sejenaknya memang mereka hidup di era yang sat set, bedalah sama aku dulu kalau mau jajan mesti minta uang dulu lalu jalan kaki ke warung. Sementara Gen Z ini hidupnya modal klik klak dan top up hehe
Dari situ aku belajar satu hal: bekerja bersama Gen Z membutuhkan sedikit penyesuaian, bukan hanya dari mereka, tetapi juga dari kita.
Ketika Basa-Basi Tidak Lagi Menjadi Bahasa Utama
Generasi yang lebih dulu bekerja biasanya terbiasa memulai percakapan dengan pengantar. Menanyakan kabar, membuka pembicaraan dengan kalimat ringan, baru kemudian masuk ke inti masalah.
Bagi Gen Z, proses itu terasa terlalu panjang.
Mereka cenderung langsung menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Efisien, cepat, dan kadang terasa sangat lugas.
Awalnya aku juga merasa sedikit kaget. Tetapi lama-lama aku sadar bahwa ini hanyalah perbedaan cara berkomunikasi.
Bukan soal sopan atau tidak sopan, melainkan soal kebiasaan generasi.
Di titik itu aku mulai mengambil sikap yang sederhana: mengalah sedikit untuk memahami dunia mereka.
Bukan berarti aku harus berubah sepenuhnya menjadi seperti mereka, tetapi setidaknya mencoba melihat cara mereka berinteraksi tanpa buru-buru menghakimi.
Adaptasi Itu Bukan Berarti Kehilangan Prinsip
Banyak orang mengira bahwa untuk bisa bekerja dengan Gen Z kita harus sepenuhnya mengikuti cara mereka. Padahal tidak selalu begitu.
Adaptasi bukan berarti permisif.
Tetap ada hal-hal yang harus dijaga: tanggung jawab, etika kerja, dan disiplin. Hal-hal ini justru penting untuk terus ditanamkan kepada generasi yang baru memasuki dunia kerja.
Namun cara menyampaikannya mungkin memang perlu sedikit berbeda.
Alih-alih hanya memberi instruksi, kadang kita perlu menjelaskan alasan di balik sebuah aturan. Gen Z cenderung lebih mudah menerima sesuatu ketika mereka memahami logikanya.
Di sinilah proses saling belajar itu terjadi.
Ternyata Banyak Hal yang Bisa Dipelajari
Jujur saja, bekerja dengan Gen Z juga membawa warna baru dalam keseharian.
Mereka cepat menangkap hal-hal baru, terutama yang berkaitan dengan teknologi. Banyak hal yang bagi generasi sebelumnya terasa rumit, bagi mereka justru terlihat sederhana.
Yang paling membuatku tersenyum adalah hal-hal kecil yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Misalnya soal make up.
Aku pernah belajar beberapa trik make up justru dari rekan kerja Gen Z. Cara mereka menjelaskan santai, tanpa menggurui, dan sering kali disertai tawa.
Di situ aku menyadari bahwa hubungan kerja tidak selalu harus kaku.
Ada ruang untuk bertukar pengalaman, bahkan dalam hal-hal sederhana yang mungkin tidak ada hubungannya langsung dengan pekerjaan.
Tetap Ada Peran untuk Mendidik
Meski begitu, satu hal yang menurutku tetap penting adalah peran mendidik.
Generasi yang lebih dulu bekerja memiliki pengalaman menghadapi berbagai situasi kerja: tekanan target, konflik tim, hingga masa-masa sulit ketika semuanya tidak berjalan sesuai rencana.
Pengalaman ini tidak selalu dimiliki oleh mereka yang baru memulai karier.
Karena itu, meskipun kita berusaha memahami cara berpikir Gen Z, tetap ada tanggung jawab untuk membantu mereka memahami realitas dunia kerja.
Bukan dengan cara menggurui, tetapi dengan memberi contoh.
Tentang konsistensi.
Tentang tanggung jawab.
Tentang bagaimana tetap profesional bahkan ketika situasi tidak ideal.
Menemukan Titik Tengah Antar Generasi
Semakin lama bekerja bersama Gen Z, aku semakin percaya bahwa setiap generasi sebenarnya membawa kekuatan masing-masing.
Gen Z membawa energi baru, keberanian mencoba hal berbeda, dan cara berpikir yang lebih segar.
Sementara generasi yang lebih dulu bekerja membawa pengalaman, ketahanan, dan pemahaman proses yang lebih matang.
Jika keduanya mau saling membuka diri, dunia kerja justru bisa menjadi ruang belajar yang menyenangkan.
Aku tidak merasa harus sepenuhnya berubah menjadi Gen Z.
Namun aku juga tidak ingin terus melihat mereka dengan kacamata generasi lama.
Pada akhirnya, bersahabat dengan Gen Z di dunia kerja bukan soal siapa yang harus menang atau kalah.
Melainkan tentang bagaimana kita menemukan cara untuk bekerja bersama—saling memahami, saling belajar, dan tetap saling menguatkan.
Dan mungkin, di situlah proses lintas generasi itu menemukan maknanya.

0 Komentar
Komen ya biar aku tahu kamu mampir