Aku Nggak Mengejar Kurus, Aku Cuma Nggak Mau Kehilangan Diriku Sendiri

Aku Nggak Mengejar Kurus, Aku Cuma Nggak Mau Kehilangan Diriku Sendiri

Aku Nggak Mengejar Kurus, Aku Cuma Nggak Mau Kehilangan Diriku Sendiri

Dulu saat gadis aku rajin berolahraga. Menikah dan memiliki anak membuat aku tak sempat lagi melakukannya, prioritas lain menjadi pilihan dan perasaan tetap capek sih jadilah aku berpikir toh keringatan juga sampai akhirnya ya takjub bisa juga mencapai 78 kilogram hihihi.

Dulu aku pikir, olahraga itu cuma untuk orang-orang yang punya target besar : ingin kurus, ingin body goals, ingin terlihat lebih menarik.

Konsisten Olahraga
Rutin Olahraga (Dokpri)

Aku? Nggak ada di fase itu.

Aku cuma ada di fase… capek.

Capek dengan badan yang cepat lelah.
Capek dengan baju yang makin lama makin terasa sempit.
Dan capek dengan perasaan, “kayaknya aku harus mulai berubah,” tapi nggak tahu mulai dari mana.

Sampai akhirnya, sebuah kalimat sederhana dari dokter jadi titik balik yang tidak aku rencanakan.

“Bu, sepertinya ibu harus olahraga deh… sudah overweight.”

Waktu itu aku nggak langsung berubah. Nggak juga pulang lalu langsung olahraga. Tapi kalimat itu seperti tinggal diam-diam di kepalaku, muncul lagi di waktu-waktu tertentu.

Sampai suatu hari, aku benar-benar melihat diriku sendiri… dan merasa, aku sudah terlalu lama mengabaikan tubuhku. 

Memulai dari Rasa Tidak Nyaman

Aku mulai tanpa persiapan yang matang. Tidak daftar gym. Tidak beli alat olahraga. Tidak juga ikut kelas.

Aku hanya membuka YouTube, mencari sesuatu yang bahkan aku sendiri belum yakin akan aku jalani.

Dan aku menemukan satu video: gerakan sederhana, tanpa loncat, yang bahkan terlihat “terlalu ringan” untuk disebut olahraga.

Tapi ternyata, itu cukup untuk membuatku tersadar bahwa tubuhku sudah lama tidak diajak bergerak.

Sepuluh menit pertama saja aku sudah kehabisan napas.
Tiga puluh menit terasa seperti satu jam.

Dan jujur, di situ aku tidak merasa hebat.
Aku justru merasa tertinggal… dari diriku sendiri yang dulu.

Saat Timbangan Belum Berubah, Tapi Aku Iya

Di awal perjalanan, aku tidak menemukan hasil yang dramatis.

Tidak ada angka yang turun signifikan.
Tidak ada perubahan yang langsung terlihat.

Tapi ada satu hal yang berubah—aku mulai hadir untuk diriku sendiri.

Aku mulai meluangkan waktu.
Mulai bergerak, walaupun pelan.
Mulai belajar konsisten, walaupun sering ingin berhenti.

Olahraga overweight
Olahraga bisa dengan keluarga, teman bahkan sendirian (dokpri)

Dan tanpa aku sadari, perubahan kecil itu menumpuk.

Baju yang dulu terasa sempit, mulai terasa nyaman.
Tubuh yang dulu cepat lelah, mulai lebih kuat.

Dan akhirnya, angka itu menyusul. 

Olahraga yang Tidak Lagi Tentang “Harus”

Seiring waktu, aku mencoba banyak hal. Tidak semuanya cocok. Tidak semuanya bisa aku nikmati.

Sampai akhirnya aku kembali ke sesuatu yang pernah menjadi bagian dari masa laluku : aerobik.

Bukan karena itu yang paling efektif.
Tapi karena itu yang paling “aku”.

Di situ aku tidak merasa sedang memaksa diri. Aku merasa seperti sedang kembali pulang.

Dan mungkin, di situlah aku menemukan jawabannya.

Bahwa olahraga bukan tentang mencari yang paling benar, tapi yang paling bisa kita jalani. 

Tentang Usia, Tubuh, dan Penerimaan

Di usia 40 tahun ke atas, aku belajar satu hal yang tidak pernah benar-benar aku pahami sebelumnya: tubuh kita tidak bisa diperlakukan seperti dulu lagi.

Ia tidak bisa dipaksa.
Ia tidak bisa dibandingkan.
Dan ia tidak bisa diajak kompromi dengan ego.

Tubuh ini butuh diajak bekerja sama.

Itu sebabnya aku memilih gerakan yang lebih ramah. Tanpa loncatan berlebihan. Tanpa tekanan yang menyiksa sendi. Bukan karena tidak mampu, tapi karena aku ingin bertahan lebih lama.

Karena bagiku, yang penting bukan seberapa cepat berubah. Tapi seberapa lama aku bisa menjaga perubahan itu. 

Aku Berhenti Mengejar Tren

Ada satu fase di mana aku sempat tergoda untuk mencoba berbagai jenis olahraga yang sedang ramai. Yang katanya cepat membakar lemak. Yang katanya hasilnya instan.

Tapi aku sadar, aku tidak butuh yang cepat. Aku butuh yang bertahan.

Dan sejak itu, aku berhenti mengejar tren.

Aku memilih sesuatu yang sederhana. Yang bisa aku lakukan di rumah. Yang tidak membuatku merasa tertekan.

Karena aku tahu, kalau terasa terlalu berat, aku akan berhenti.

Dan aku tidak mau mengulang itu lagi. 

Ini Bukan Tentang Kurus

Perjalanan ini memang membuat berat badanku turun. Dari 78 kg menjadi sekitar 60-an kilogram.

Tapi kalau ditanya, apakah itu tujuan utamanya?

Tidak.

Tujuan utamaku sederhana : aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri di tengah kesibukan, di tengah peran sebagai ibu, di tengah semua tanggung jawab yang aku jalani.

Olahraga, ternyata, bukan sekadar aktivitas fisik.

Ia adalah cara aku kembali ke diriku sendiri.
Cara aku berhenti sejenak.
Cara aku mengingat bahwa tubuh ini juga butuh diperhatikan. 

Penutup

Aku tidak sedang mencoba menjadi versi terbaik menurut standar orang lain.

Aku hanya sedang belajar menjadi versi yang lebih peduli terhadap diriku sendiri.

Dan kalau hari ini kamu sedang berada di titik yang sama bingung harus mulai dari mana, merasa tubuh sudah tidak sekuat dulu, atau bahkan merasa terlambat…

Percayalah, tidak ada kata terlambat untuk mulai.

Mulai saja dulu.
Pelan-pelan.
Sesuai kemampuan.

Karena pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling cepat berubah.

Tapi siapa yang memilih untuk tetap berjalan. 

“Kadang, kita tidak butuh perubahan besar.
Kita hanya butuh keberanian untuk mulai, dan kesabaran untuk tetap tinggal.”


0 Komentar

Komen ya biar aku tahu kamu mampir