Menikahlah! Ibarat mencoba berbagai wahana permainan meski menyeramkan, meski membuat suara habis keluar bahkan ada yang sampai mual bahkan muntah but it's worthied to try bukan? Minimal sekali dalam seumur hidup wkwkwk
![]() |
| Ilustrasi made by AI Canva |
Marriage is sweet? Kalau pertanyaan itu ditujukan kepadaku, jawabanku mungkin agak berbeda dari yang orang duga. Menikah memang manis, tetapi jangan membayangkan manis seperti makan cake dengan krim yang lembut. Menikah itu lebih seperti naik roller coaster: sebelum naik kita sudah tahu ada tanjakan, turunan, tikungan tajam, bahkan kemungkinan kita akan berteriak sekeras-kerasnya. Ketika kereta mulai bergerak, kita mungkin masih tertawa dan merasa seru, lalu beberapa detik kemudian tubuh kita dilempar ke sana kemari, jantung berdegup kencang, perut terasa naik ke tenggorokan, dan pada satu titik kita mungkin berpikir, “Ngapain sih aku tadi mau naik?” Tetapi setelah semuanya selesai dan kita turun dari wahana, ada rasa puas karena ternyata kita pernah mencoba sesuatu yang tidak akan kita rasakan kalau sepanjang hidup hanya berdiri di luar pagar.
Kalau ada seseorang yang bertanya kepadaku apakah sebaiknya menikah atau memilih hidup sendiri, aku mungkin tidak akan buru-buru mengatakan bahwa menikah pasti lebih bahagia. Aku juga tidak akan mengatakan bahwa hidup tanpa pasangan itu kurang lengkap, karena setiap orang tentu punya pilihan dan alasan masing-masing. Tetapi kalau seseorang memang ingin menikah, punya kesempatan untuk menikah, dan menemukan orang yang menurutnya layak diajak menjalani kehidupan bersama, aku justru akan bilang: cobalah.
Bukan karena aku punya jaminan bahwa pernikahan akan berlangsung selamanya. Tidak ada manusia yang bisa memberikan jaminan seperti itu. Tetapi menurutku, ada pengalaman-pengalaman dalam hidup yang memang baru bisa kita pahami setelah menjalaninya sendiri. Sama seperti orang yang penasaran bagaimana rasanya naik roller coaster. Kita bisa melihat orang lain berteriak dari bawah, membaca review, menonton videonya di YouTube, atau mendengar cerita teman yang sudah mencobanya. Tetapi semua itu tidak akan sama dengan ketika kita sendiri duduk di kursinya, memasang pengaman, lalu perlahan-lahan dibawa naik sampai ke titik paling tinggi.
Menikah memang menambah masalah
Aku tidak mau menjual pernikahan sebagai sebuah kehidupan yang romantis setiap hari. Justru menurutku, orang yang mau menikah perlu tahu bahwa pernikahan memang akan menambah masalah. Sebelum menikah, kita bisa bangun tidur dan memikirkan diri sendiri. Mau makan apa, mau pergi ke mana, uang mau dipakai untuk apa, akhir pekan mau tidur seharian atau jalan-jalan, semuanya bisa diputuskan sendiri. Setelah menikah, ada orang lain yang harus ikut diperhitungkan. Ada kebiasaan yang berbeda, cara berpikir yang berbeda, keluarga yang berbeda, bahkan standar sederhana tentang bagaimana sebuah rumah seharusnya dijalankan pun bisa berbeda.
Kadang kita akan bertanya dalam hati, kenapa sih harus serumit ini? Bukankah kalau sendirian semuanya lebih gampang? Ya, memang lebih gampang. Tetapi hidup yang lebih gampang belum tentu memberikan pengalaman yang sama. Dan menurutku, jangan buru-buru menghindari sebuah perjalanan hanya karena kita tahu perjalanan itu akan membuat kita repot.
Lagipula, hidup sendiri juga bukan berarti bebas masalah. Punya pasangan ada masalahnya, tidak punya pasangan juga ada masalahnya. Punya anak ada tantangannya, tidak punya anak juga punya cerita sendiri. Bekerja ada tekanan, tidak bekerja pun ada persoalan. Jadi kalau ukuran kita dalam memilih kehidupan adalah “mana yang paling sedikit masalahnya”, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar menjalani apa pun.
Ternyata menjadi istri itu keren
Ada satu hal yang baru kusadari setelah menjadi istri: ternyata menjadi istri itu keren juga. Aku tidak sedang bicara tentang status, pakaian, panggilan, atau foto pernikahan. Yang kumaksud adalah pengalaman melihat diriku sendiri mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak pernah kubayangkan.
Aku yang mungkin terbiasa dengan caraku sendiri ternyata bisa memundurkan ego demi seseorang. Aku bisa mempertimbangkan pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan. Aku bisa belajar memahami kebiasaan yang berbeda, mencoba mengerti sudut pandang yang tidak sama dengan pikiranku, dan pada beberapa kesempatan memilih untuk tidak memperpanjang sesuatu hanya karena ingin membuktikan bahwa aku benar.
Dan ketika melihat ke belakang, aku merasa, “Oh, ternyata aku bisa seperti itu.”
Menurutku itu salah satu hal paling menarik dari pernikahan. Kita bukan hanya mengenal pasangan, tetapi juga berkenalan dengan versi diri kita sendiri yang mungkin selama ini belum pernah muncul. Ada kemampuan untuk berkompromi yang baru terasa ketika kita benar-benar harus berbagi kehidupan dengan orang lain. Ada kesabaran yang tiba-tiba tumbuh karena ada seseorang yang harus kita pahami. Ada ego yang ternyata bisa kita geser karena kita menyadari bahwa hubungan tidak akan berjalan kalau masing-masing hanya sibuk mempertahankan dirinya sendiri.
Sekeren itu aku ternyata.
Ada pengalaman yang tidak akan kita dapat kalau tidak menikah
Aku pernah berpikir bahwa sebagian orang mungkin memilih tidak menikah karena mereka melihat terlalu banyak masalah di dalam pernikahan. Aku bisa memahami pemikiran itu. Bahkan mungkin ada orang yang melihat pernikahan orang lain lalu berpikir, “Untuk apa aku masuk ke dalam kehidupan serumit itu?”
Tetapi menurutku, jangan hanya melihat masalahnya. Lihat juga pengalaman yang mungkin kita dapatkan.
Menjadi pasangan seseorang berarti belajar berbagi kehidupan, bukan sekadar berbagi tempat tidur atau rumah. Kita belajar bagaimana rasanya mempunyai seseorang yang harus kita pertimbangkan dalam keputusan-keputusan kecil maupun besar. Kita belajar bagaimana rasanya membangun sesuatu bersama, membuat rencana bersama, menghadapi hari-hari biasa bersama, bahkan belajar bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata romantis.
Kadang cinta justru muncul dalam bentuk yang sangat biasa dan hampir tidak terlihat. Mengingatkan sesuatu, menunggu, membantu, menemani, memikirkan kebutuhan pasangan, atau sekadar tahu bahwa ada seseorang yang akan kita cari ketika hari terasa melelahkan.
Hal-hal seperti itu mungkin terdengar sederhana, tetapi ketika kita menjalaninya sendiri, baru terasa bahwa ternyata pengalaman tersebut memiliki tempat tersendiri dalam hidup.
Tidak semua roller coaster harus kita naiki dua kali
Lalu bagaimana kalau ternyata perjalanan itu tidak berlangsung selamanya?
Menurutku, itu bagian lain dari kehidupan yang juga harus kita terima. Ada perjalanan yang memang sampai tujuan bersama, ada pula perjalanan yang pada akhirnya membuat dua orang mengambil jalan masing-masing. Tetapi apakah karena sebuah perjalanan tidak berlangsung seumur hidup, berarti perjalanan tersebut sia-sia?
Aku rasa tidak.
Kalau kita kembali ke roller coaster tadi, kita tidak pernah naik wahana dengan jaminan bahwa setelah turun kita akan langsung ingin menaikinya lagi. Bisa saja setelah turun kita pucat, rambut berantakan, kepala pusing, perut mual, bahkan bersumpah tidak akan pernah naik lagi. Tetapi setidaknya kita tahu bagaimana rasanya. Kita pernah mencobanya. Kita pernah berteriak ketika kereta meluncur turun, pernah merasakan tubuh terangkat ketika melewati tikungan, pernah tertawa karena ketakutan, dan akhirnya bisa berdiri lagi di tanah dengan cerita yang tidak akan kita punya kalau sejak awal memilih tidak masuk.
Begitu juga pernikahan.
Menurutku, jangan menikah hanya karena takut sendirian. Jangan pula menikah hanya karena umur, tekanan keluarga, atau karena semua teman sudah menikah. Tetapi kalau hati memang ingin menikah dan kita bertemu seseorang yang ingin kita ajak menjalani perjalanan itu, menurutku tidak ada salahnya mencoba.
Jadi, marriage is sweet?
Sekarang aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan lebih santai: yes, marriage is sweet. Tetapi manisnya bukan karena pernikahan bebas masalah atau karena setiap pasangan akan hidup bahagia selamanya. Manisnya justru karena pernikahan memberi kita kesempatan untuk mengalami sesuatu yang berbeda dari kehidupan seorang diri. Kita belajar mencintai seseorang dalam kehidupan nyata, bukan hanya dalam bayangan. Kita belajar berbagi, berkompromi, memundurkan ego, menerima perbedaan, dan mengenal diri sendiri dari sudut yang mungkin tidak pernah kita lihat sebelumnya.
Jadi kalau ada perempuan atau laki-laki yang bertanya kepadaku, “Menikah itu worth it nggak?” aku mungkin akan menjawab: kalau memang kamu ingin menikah dan menemukan orang yang ingin kamu ajak menjalani perjalanan itu, kenapa tidak mencoba? Jangan takut hanya karena tahu akan ada masalah. Semua perjalanan hidup punya masalahnya masing-masing.
Toh, kalau ternyata sepanjang perjalanan kita harus menjerit, terbalik, deg-degan, mual, bahkan nyaris muntah, setidaknya setelah turun dari roller coaster kita bisa tersenyum dan berkata, “Aku pernah mencoba.”
Dan menurutku, ada pengalaman hidup yang memang worth it untuk dicoba, meskipun kita tidak pernah tahu sejak awal bagaimana akhirnya.
.png)
0 Komentar
Komen ya biar aku tahu kamu mampir