20180319

Karena Aku Cerewet (Mungkin)

"Pernah enggak mbak dirimu berantem hebat dengan suami ?"
"enggak sih"
"Kok bisa ?" 
"Karena aku cerewet, mungkin loh ya"


Kalau lagi kumpul sesama emak-emak kadang ada saja yang bertanya tentang keharmonisan rumah tangga, biasa saja sih kalau ada berantem-berantem nya selama kita bisa saling menghargai dan kembali kepada tujuan kita untuk berumahtangga dengan pasangan kita.

Aku Batak, suami Sunda. Aku gendut, suami kurus. Fix orang-orang memberi penilaian "pasti lu dominan ya mbak?". Bisa jadi memang iya, dominan dalam rumah tangga bukan berarti menguasai. Aku cerewet, setiap hari aku selalu seperti orang merepet, dan aku yakin suami ku sudah paham betul dengan cara ku berkomunikasi ini. Intonasi nya pun keras, hanya karena memang aku orang Batak, bukan pula membentak. Tapi ketika aku marah maka jangan berharap aku mengeluarkan kata.

Marah adalah batas akhir aku mengeluarkan kata, repetan-repetan kecil itu adalah kenormalan ku bicara, bila marah ? maka aku diam untuk apa mengeluarkan kata ? Rasanya repetan kecil ini seperti slow release bagi ku, sehingga ketika mencapai puncak ya sudah tak ada kata yang harus diucapkan lagi. Mungkin karena cerewet itulah selama hampir 6 tahun menikah belum pernah ada telunjuk yang sampai ke wajah suami, belum ada piring yang terbang, belum ada pintu kamar yang ditutup dengan keras, karena bila marah tiba aku sudah kehabisan kata.



Sering aku bilang ke sesama teman, kalau enggak suka maka sampaikan, toleransi itu bukan mendiamkan apa yang tak kita suka. Karena percayalah ketika dirimu kesal maka semua ketidaksukaan itu akan terucap kembali, seharusnya bisa dengan intonasi protes, namun karena disulut oleh emosi menjadi saling memaki.

Beberapa komitmen juga harus terus diingat, misal sejak sebelum menikah aku sudah bilang kepada suami "jangan pernah berantem di depan anak-anak", inshaallah sampai hari ini hal ini masih terjaga, bukan enggak pernah kesal, pernah kok. Hanya saja komitmen tadi bisa menahannya. Aku pribadi saja bila mendengar ada orang berantem jantung ku langsung enggak karuan, lalu dulu ketika masih kecil aku harus menenangkan adikku karena sedih melihat orang tua kami adu argumen. Aku sendiri takut tapi aku harus tidak takut hanya karena aku ingin membuat adikku nyaman. Perasaan itulah yang aku pahami sehingga aku tak ingin itu terjadi di dalam rumah tangga kami.

Suami pernah juga merasa bosan karena aku dianggap terlalu mendikte apa yang harus dilakukannya. Fine aku berjanji enggak akan seperti itu, dan bisa ditebak ketika aku menanyakan sesuatu yang harus dikerjakannya jawabannya "maaf lupa", dan sejak saat itu suami enggak keberatan kalau semua nya aku cek kembali.

Suamimu ya pasti manutlah, kan gajimu lebih gede ! Menurutku bukan itu penyebabnya, di awal menikah dulu aku menjelma seperti apa yang dia inginkan dan apa yang aku idamkan. Aku melayani suami sepenuhnya, pokoknya suami sudah kek raja. Sampai di suatu saat aku bilang ke diriku "hei, kau memang mampu melakukan semuanya tapi apa perlu ?" Aku khawatir rasa lelah akan membuat aku tak ikhlas, aku khawatir rasa lelah akan membuat aku berhitung, aku khawatir rasa lelah akan membuat aku tak waras. Alhasil aku ajak suami bicara dari hati ke hati. Dan dia pikir karena aku mau dan mampu ya sudah, sejak saat itulah kami berbagi tugas untuk mengurus rumah tangga kami. Terkadang rasa kecewa justru bisa sirna karena dia sudah ikut bertanggung jawab, ucapan terima kasih yang setiap hari aku WA juga bisa menumbuhkan rasa sayang kita terhadap pasangan.

Meski aku berpenghasilan lebih besar, namun aku selalu meminta izin bila hendak membeli apapun, khususnya urusan pribadi ku. Jawabannya tak selalu iya, dia juga ada melarang dan aku akan patuh. Hal seperti ini remeh namun bisa membuat suami merasa dihargai inshaallah akan membuat dia merasa dihormati dan ini penting untuk kepercayaan diri suami dihadapan anak-anak.

Jadi ingat ya mendiamkan yang tak disukai bukanlah toleransi, jangan di pendam tinggal atur saja cara menyampaikannya, sejauh ini aku sangat terbantu dengan aplikasi chatting dan biasanya membaca dengan mendengar itu berbeda rasanya, untuk suamiku lebih suka membaca jadi unek-unek aku sampaikan dengan chatting , ikon-ikon emosi pun banyak , pernah aku kirim ikon marah yang pakai tanduk haha, eh pas cek di hpnya berubah menjadi ikan , pantas lah dia tak pernah marah dan hanya membalas cukup singkat "iya mi" hehe

Jalani hidup dengan sabar dan syukur inshaallah kita selalu dalam lindunganNYA aamiin.



11 comments:

  1. wa so sewwwwet tapi kocak mbak
    apalagi pas kalimat aku gendut suami kurus #eh
    yang penting saling penegrtian ya mbak
    semoga samawa teruss

    ReplyDelete
  2. Makasih Mba Uli sharingnya. Aku masih agak kesulitan untuk mengontrol emosi, masih suka meledak-ledak hehe.

    Semoga Mba dan suami SaMaWa terus dan bisa bahagia sampai tua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, kebaikan yang sama untuk kita semua ya aamiin

      Delete
  3. Cakep kak sharingnya :)

    ReplyDelete
  4. Aku juga cerewet..apalagi klo dah capek..
    Suamiku pendiam mba..
    Klo marahan..malah diem2anπŸ˜€πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheh memang begitu ya yang cerewet dapay yang pendiam hehe

      Delete
  5. Aku jawa, suami bengkulu.
    Aku pendiam, suami banyak bicara.
    Dulu di awal-awal masa pernikahan, suami sering mengatakan "Suaraku keras bukan berarti aku marah, memang beginilah kalau orang sumatra bicara". Dia bilang begitu, karena saya pernah cerita kalau saya itu takut dan trauma kalau lihat orang marah

    ReplyDelete
  6. Kayak nemu temen banget nih saya.
    Saya juga cerewet, banget.
    Tapi ceoat capek sih kalau ngomel kelamaan hahaha

    Dan setuju banget, toleransi bukan membiarkan.

    Kalau suami punya kebiasaan buruk ya diingatkan :)

    ReplyDelete
  7. Kita sama mba. . Kalo marah, aku lgs diam.. Jd sbnrnya udh kliatan banget kalo aku marah besar ato cm marah biasa :p. Suami mah udh ngerti. Kalo sampe aku diam nyuekin dia, itu berarti jangan macem2 hihihihi. Untungnya sih, krn suami juga solo, dan aku batak, dia lbh sabar. Jd ada yg ngademin kalo salah satu memang marah. Kalo sama2 ngamuk, masalahnya bisa makin panas.

    ReplyDelete

Komentar mu Informasi untuk Kita